Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Reformasi Pariwisata Didorong Airlangga untuk Hadapi Dampak Krisis Global dan Gangguan Konektivitas

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Reformasi Pariwisata Didorong Airlangga untuk Hadapi Dampak Krisis Global dan Gangguan Konektivitas
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Rabu 18/3/2026 (sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong reformasi sektor pariwisata guna mengurangi dampak krisis global yang dipicu konflik di Timur Tengah dan gangguan konektivitas internasional yang menekan industri tersebut.

Dampak Krisis Global dan Ancaman Kerugian Pariwisata

Airlangga menyatakan sektor pariwisata menghadapi tekanan serius akibat terganggunya mobilitas global serta kenaikan harga avtur yang memperburuk kondisi industri.

Ia mengatakan, "Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional."

Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara per hari jika tidak dilakukan langkah mitigasi.

Potensi kerugian devisa diperkirakan mencapai Rp184,8 miliar per hari akibat penurunan kunjungan wisatawan.

Laporan InJourney Airports mencatat gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai yang berdampak pada mobilisasi 47.012 penumpang.

Strategi Pemerintah Perkuat Ketahanan Pariwisata

Airlangga menegaskan sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar Rp945,7 triliun atau 3,97 persen terhadap PDB pada 2025.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 15,39 juta orang atau tumbuh 10,7 persen secara tahunan dengan devisa sebesar 18,91 miliar dolar AS.

Sektor ini juga menopang sekitar 25,91 juta tenaga kerja di Indonesia.

Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan ke 20 negara potensial.

Berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, kebijakan tersebut sejak 2015 mampu meningkatkan jumlah wisatawan hingga 15 persen per tahun serta menciptakan sekitar 400.000 lapangan kerja baru.

Pemerintah juga mendorong penguatan pasar domestik melalui momentum libur Lebaran dengan konsep micro-tourism yang mengembangkan destinasi dalam radius perjalanan darat.

Stimulus berupa diskon transportasi selama Lebaran 2026 serta kebijakan Work From Anywhere disiapkan untuk meningkatkan mobilitas wisatawan domestik.

Langkah lain meliputi negosiasi pembukaan rute internasional baru serta penguatan branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil.

Promosi destinasi bagi digital nomad difokuskan di wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, dan KEK Kura-Kura Bali yang dinilai potensial sebagai ekosistem kerja berbasis teknologi.

Airlangga menyatakan, "Dengan gejolak nilai tukar saat ini, seharusnya menjadi potensi tersembunyi dalam menarik wisatawan karena mereka bisa mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka tukarkan. Untuk itu, pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high-end dengan harga terjangkau perlu diperkuat."

Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antar pemangku kepentingan guna menjaga ketahanan ekosistem pariwisata di tengah dinamika global.

Penulis :
Shila Glorya
Editor :
Shila Glorya