
Pantau - Mesin pertanian pintar asal China semakin menemukan peluang besar di pasar ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia, seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan adaptasi terhadap kondisi lahan.
Kendaraan pengangkut kelapa sawit dari China kini mulai digunakan di berbagai perkebunan di Indonesia karena mampu melintasi medan kompleks serta menekan biaya operasional.
"Perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat luas, sering kali mencakup puluhan ribu hektare, dengan jalan yang sebagian besar berupa jalur kerikil sederhana," ujar Huang Qinghua.
Ia mengungkapkan bahwa peralatan tradisional sebelumnya banyak bergantung pada produk dari Amerika Serikat dan Jepang yang kurang sesuai dengan kondisi lokal.
Teknologi Adaptif dan Hemat Biaya
Huang menjelaskan kendaraan yang dikembangkan China memiliki daya tahan tinggi dan mampu beroperasi di medan berat khas negara ASEAN.
"Peralatan kami mampu menangani medan kompleks di negara seperti Indonesia dan Malaysia dengan mudah," ungkapnya.
Menurutnya, biaya operasional dapat ditekan rata-rata hingga 37 persen sehingga produk tersebut lebih kompetitif di pasar.
Produk ini bahkan telah menghasilkan nilai output lebih dari 50 juta yuan di Indonesia dan Malaysia dengan tren penjualan yang terus meningkat.
Digitalisasi dan Mekanisasi Percepat Produksi
Selain kendaraan, China juga mengembangkan platform digital seperti Didi Farm Machinery untuk menghubungkan petani dengan operator mesin secara efisien.
"Dahulu, pengelolaan pertanian mekanis untuk 3.000 mu lahan tebu membutuhkan pencarian operator secara manual," ujar Li Jinwei.
Kini, satu mesin penanam mampu menyelesaikan pekerjaan hingga 15-20 mu per hari atau setara tenaga 15-20 pekerja.
Data menunjukkan tingkat mekanisasi pertanian di China pada 2025 mencapai 76,7 persen dengan lebih dari 300.000 drone pertanian digunakan.
Ekspor mesin pertanian China juga meningkat 25 persen secara tahunan menjadi 18,96 miliar dolar AS dengan ASEAN sebagai pasar utama.
"Thailand memproduksi sejumlah besar buah tropis seperti durian, manggis, dan lengkeng, tetapi proses panen masih sebagian besar dilakukan secara manual," ujar Dares Kittiyopas.
Ia menambahkan kebutuhan terhadap mesin modern semakin meningkat seiring berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian.
Dengan kemiripan kondisi geografis antara China selatan dan negara-negara ASEAN, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar bagi ekspansi teknologi pertanian pintar.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







