HOME  ⁄  Ekonomi

Kesepakatan ART dengan AS Jadi Momentum Kebangkitan Industri Tekstil Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kesepakatan ART dengan AS Jadi Momentum Kebangkitan Industri Tekstil Nasional
Foto: (Sumber : Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri subsektor tekstil dan pakaian pada kuartal II 2025 tumbuh 5,39 persen karena didorong adanya revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor khususnya sektor tekstil. ANTARA FOTO/Ika Maryani/hma/foc..)

Pantau - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat menjadi momentum kebangkitan industri tekstil nasional melalui fasilitas tarif impor nol persen.

Tarif Nol Persen Dongkrak Daya Saing

Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengatakan kebijakan tersebut memberikan peluang besar bagi produk tekstil dan garmen Indonesia untuk bersaing di pasar Amerika Serikat melalui skema tariff-rate quota (TRQ).

“Penerapan tarif nol persen melalui kesepakatan ini memberikan optimisme baru bagi industri tekstil nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan kebijakan tersebut berpotensi menopang sekitar 4 juta tenaga kerja serta berdampak pada 20 juta masyarakat Indonesia.

Dengan nilai ekspor saat ini sekitar 4 miliar dolar AS, industri tekstil nasional menargetkan pertumbuhan hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade mendatang.

“Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri,” kata Jemmy.

Pameran Industri Jadi Penggerak Ekosistem

Untuk memanfaatkan momentum tersebut, API mendorong penyelenggaraan pameran Indo Intertex & Inatex pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Direktur PT Peraga Expo Paul Kingsen mengatakan pameran ini akan diikuti lebih dari 800 peserta yang mewakili 1.500 merek global serta menargetkan 35 ribu pengunjung dari 29 negara.

“Indo Intertex dan Inatex kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan industri secara nyata, mulai dari menghadirkan pemasok yang relevan, menampilkan teknologi yang terpercaya, hingga menciptakan lingkungan bisnis yang mendukung pelaku industri dalam mengambil keputusan secara lebih cepat,” ujarnya.

Pameran ini juga menghadirkan seminar dan workshop yang membahas tren, strategi, serta tantangan industri tekstil, termasuk isu keberlanjutan dan praktik manufaktur ramah lingkungan.

“Kami juga melihat kualitas partisipasi yang terus meningkat, seiring dengan fokus pasar pada efisiensi, inovasi, dan manufaktur berkelanjutan,” kata Paul.

Penulis :
Aditya Yohan