
Pantau - Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.030 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.012 per dolar AS, dipicu meningkatnya tekanan eksternal akibat konflik di Timur Tengah.
Sentimen Global Tekan Nilai Tukar
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang kembali melancarkan serangan ke Lebanon.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.020 - Rp17.080 dipengaruhi oleh meningkatnya kembali tekanan eksternal setelah klaim Iran terhadap pelanggaran kesepakatan gencatan senjata terkait serangan Israel ke Lebanon, sehingga memicu harga minyak naik,” ujarnya.
Serangan udara besar-besaran dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Lebanon, termasuk Beirut dan Lembah Beqaa, dengan lebih dari 100 titik disasar dalam waktu singkat dan menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyebut penghentian konflik di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran dan menyebutnya sebagai “kesalahpahaman”.
Faktor Domestik Kurang Menopang
Dari dalam negeri, sentimen ekonomi juga belum mampu menahan pelemahan rupiah setelah cadangan devisa Indonesia tercatat turun 3,7 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026.
Selain itu, realisasi surplus perdagangan yang hanya mencapai 1,2 miliar dolar AS juga berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,5 miliar dolar AS.
“Konsensus pasar surplus perdagangan 1,5 miliar dolar AS, tapi realisasi 1,2 miliar dolar AS,” ungkap Rully.
Kondisi tersebut membuat rupiah masih berada dalam tekanan di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik geopolitik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








