
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Kamis pagi dibuka melemah 40,75 poin atau 0,56 persen ke level 7.238,46, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan Global dan Sentimen Kawasan
Pelemahan IHSG terjadi sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang kompak berada di zona merah.
Indeks LQ45 juga turun 5,05 poin atau 0,69 persen ke posisi 728,57.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, “Kiwoom Research melihat resistance IHSG berikutnya ada di angka 7.325, jika level ini mampu ditembus pula, maka IHSG akan semakin melaju menuju target 7.600 yang merupakan resistance jangka menengah.”
Dari faktor global, pasar merespons dinamika gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang masih diwarnai ketegangan, termasuk tudingan pelanggaran kesepakatan serta konflik yang meluas ke Lebanon.
Harga minyak dunia juga mengalami volatilitas tinggi dengan minyak jenis WTI dan Brent berada di kisaran 97 dolar AS per barel.
Tekanan Domestik dan Distribusi Energi
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat turun dari 151,9 miliar dolar AS pada Februari menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026 akibat intervensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.
Selain itu, dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di kawasan Teluk Persia dan belum dapat melintasi Selat Hormuz karena kendala teknis dan faktor keamanan.
Pemerintah menyatakan komunikasi dengan pihak Iran masih berlangsung dan berharap distribusi energi dapat segera kembali normal.
Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap aman karena sumber impor minyak mentah telah didiversifikasi ke sejumlah negara lain.
Secara global, bursa saham Eropa dan Wall Street sebelumnya menguat, namun pasar Asia pada Kamis pagi cenderung melemah mengikuti ketidakpastian geopolitik.
- Penulis :
- Aditya Yohan









