HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Awal Pekan Melemah Tertekan Bursa Asia dan Sentimen Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Awal Pekan Melemah Tertekan Bursa Asia dan Sentimen Global
Foto: (Sumber : Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). IHSG ditutup turun 362,71 poin setara 4,57 persen ke level 7.577,06. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Senin pagi dibuka melemah 48,41 poin atau 0,65 persen ke posisi 7.410,09 seiring tekanan dari pergerakan bursa saham kawasan Asia.

Tekanan Global dan Geopolitik Bayangi Pasar

Pelemahan IHSG juga diikuti penurunan Indeks LQ45 sebesar 5,28 poin atau 0,71 persen ke posisi 741,19.

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyebut tekanan eksternal masih menjadi faktor utama pergerakan pasar, meski permintaan domestik tetap menjadi penopang.

"Secara umum, resiliensi permintaan domestik masih menjadi penopang utama di tengah tekanan eksternal. IHSG berpeluang menguat terbatas pada hari ini," sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas.

Dari sisi global, ketidakpastian meningkat setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad tidak mencapai kesepakatan, sehingga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas geopolitik.

Selain itu, data inflasi Amerika Serikat tercatat 0,9 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan akibat lonjakan harga energi.

Kondisi tersebut dinilai dapat menempatkan bank sentral AS, The Fed, pada posisi sulit antara menjaga inflasi atau mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sentimen Asia dan Data Domestik Jadi Penentu

Dari kawasan Asia, mayoritas indeks saham mengalami pelemahan, di antaranya Nikkei turun 0,88 persen, Hang Seng melemah 1,15 persen, Shanghai turun 0,23 persen, dan Strait Times terkoreksi 0,27 persen.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan sejumlah data penting dari Bank Indonesia seperti Survei Penjualan Eceran, Statistik Utang Luar Negeri, hingga Prompt Manufacturing Index dan Survei Kegiatan Dunia Usaha.

Data konsumsi pasca-Ramadan dinilai menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat serta arah pertumbuhan ekonomi domestik.

Adapun pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa dan Amerika Serikat ditutup variatif, mencerminkan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan.

Penulis :
Ahmad Yusuf