
Pantau - Akademisi Universitas Indonesia menyatakan program mandatori biodiesel terbukti efektif menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan kebijakan biodiesel memiliki potensi besar sebagai substitusi solar.
"Program biodiesel memang efektif menekan impor solar dan memperbaiki neraca perdagangan energi melalui pengurangan impor solar secara signifikan. Program itu bisa menghemat devisa hingga 8-10 miliar dolar AS per tahun," ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Energi Nasional
Rhenald menilai ketersediaan bahan baku kelapa sawit yang melimpah serta kesiapan teknologi menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola industri sawit yang berkelanjutan, termasuk pencegahan deforestasi dan perlindungan masyarakat adat.
"Perlu diingat, sawit bukan produk homogen untuk energi. Peningkatan alokasi crude palm oil (CPO) ke energi dapat mengurangi pasokan pangan yang memicu kesulitan bagi substitusi dapur, yaitu kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng," katanya.
Pengurangan Impor dan Dampak Lingkungan
Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung menambahkan program biodiesel mampu menurunkan ketergantungan impor BBM hingga sekitar 50 persen.
Ia menjelaskan implementasi biodiesel B40 telah menekan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025.
"Penggunaan bioenergi sawit juga memperbaiki lingkungan hidup dan bukan merusak lingkungan," ujarnya.
Selain itu, kebijakan biodiesel pada 2025 tercatat menghemat devisa sebesar Rp130,21 triliun serta menurunkan emisi hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.
Program biodiesel yang dikembangkan dari B1 hingga menuju target B50 pada 2026 diharapkan dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan








