HOME  ⁄  Ekonomi

HIMKI Soroti Tekanan Biaya, Minta Kebijakan Terukur Jaga Daya Saing Furnitur Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

HIMKI Soroti Tekanan Biaya, Minta Kebijakan Terukur Jaga Daya Saing Furnitur Nasional
Foto: (Sumber : Produk furnitur industri dalam negeri yang dipamerkan di International Furniture Expo (IFEX) 2026 di Tangerang, Banten, Jumat (6/3/2026). ANTARA/HO-HIMKI..)

Pantau - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menekankan pentingnya kebijakan yang terukur untuk menjaga daya saing industri furnitur dan kerajinan nasional di tengah kenaikan biaya energi dan tekanan global.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyatakan sektor hilir seperti furnitur sangat rentan terhadap perubahan biaya produksi dan dinamika pasar internasional.

“Sektor hilir seperti furnitur dan kerajinan memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan biaya. Di sisi lain, ruang untuk menyesuaikan harga di pasar global sangat terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi industri mencakup kenaikan biaya energi, keterbatasan bahan baku, hambatan operasional, serta pengaturan likuiditas ekspor yang dapat mengganggu kinerja industri padat karya tersebut.

Tantangan Industri dan Kebutuhan Kebijakan Tepat

Menurut HIMKI, kelancaran pasokan bahan baku dan fleksibilitas pengelolaan arus kas menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Kebijakan yang tepat dinilai mampu meredam tekanan terhadap sektor hilir sekaligus menjaga kontribusi terhadap nilai tambah dan devisa negara.

HIMKI juga mendorong agar pemerintah menyusun kebijakan yang mempertimbangkan karakteristik masing-masing sektor industri secara spesifik.

Target Global dan Dukungan Pemerintah

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi pusat produksi furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri.

Sektor furnitur diketahui menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung dengan pasar global bernilai lebih dari 736,21 miliar dolar AS.

Data Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan industri pengolahan pada 2025 sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Untuk mendukung produktivitas, pemerintah menjalankan program restrukturisasi mesin yang telah menjangkau 35 perusahaan dengan total bantuan Rp26,1 miliar.

Program tersebut dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sebesar 10,70 persen, mutu produk 36,28 persen, serta produktivitas hingga 32,65 persen.

Penulis :
Aditya Yohan