
Pantau - Lonjakan harga plastik akibat gangguan pasokan energi global dinilai tidak hanya menekan industri, tetapi juga mengancam fondasi ketahanan pangan sekaligus membuka peluang menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Ketergantungan Plastik dalam Sistem Pangan
Plastik memiliki peran penting dalam pertanian modern, mulai dari mulsa, irigasi, hingga greenhouse yang berfungsi mengatur air, suhu, dan stabilitas lingkungan tumbuh tanaman.
Kenaikan harga plastik lebih dari 50 persen akibat gangguan di Selat Hormuz meningkatkan tekanan terhadap petani yang bergantung pada input tersebut.
Penggunaan plastik secara global dalam sektor pertanian mencapai sekitar 12,5 juta ton per tahun, sementara untuk kemasan pangan mencapai 37 juta ton.
Ketergantungan ini menjadikan plastik sebagai instrumen penting dalam menjaga produktivitas, namun sekaligus menciptakan kerentanan saat pasokan terganggu.
Selain itu, penggunaan mulsa plastik terbukti mampu menekan pertumbuhan gulma hingga 80–95 persen dan menjaga kelembapan tanah.
Dampak Lingkungan dan Peluang Sistem Hijau
Di sisi lain, penggunaan plastik meninggalkan dampak jangka panjang berupa mikroplastik yang dapat mengganggu struktur tanah dan ekosistem.
Produksi plastik global yang telah melampaui 400 juta ton per tahun juga menunjukkan meningkatnya ketergantungan terhadap bahan berbasis energi fosil.
Bahan baku plastik yang berasal dari minyak dan gas alam memperlihatkan keterkaitan erat antara sektor energi dan pangan.
Kondisi ini memunculkan dilema antara efisiensi pertanian berbasis plastik dan kebutuhan membangun sistem yang lebih ramah lingkungan.
Kenaikan harga plastik dinilai dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pertanian modern serta mendorong inovasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada plastik sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah dinamika global.
- Penulis :
- Aditya Yohan








