HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Konflik AS-Iran

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Konflik AS-Iran
Foto: Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (sumber: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis ke level Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS akibat tekanan eksternal dan domestik.

Pelemahan tersebut tercatat sebesar 106 poin atau 0,62 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut faktor utama pelemahan berasal dari kenaikan harga energi global.

Ia mengungkapkan, "Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,".

Dampak Konflik AS-Iran terhadap Pasar Global

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu gangguan distribusi energi global di jalur strategis Selat Hormuz.

Upaya negosiasi damai kedua negara yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan tidak terlaksana karena Iran tidak hadir.

Ketidakhadiran Iran dipicu oleh tindakan blokade yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Amerika Serikat kemudian menetapkan gencatan senjata sepihak sambil tetap memberikan tekanan terhadap Iran terkait tarif dan pengayaan uranium.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan adanya hambatan serius dalam proses negosiasi.

Ia menyebut adanya inkonsistensi dari pihak AS dan mengatakan bahwa terdapat kontradiksi antara pernyataan dan tindakan dalam upaya perdamaian.

Ketidakpastian gencatan senjata serta risiko terganggunya pasokan energi global mendorong kenaikan harga minyak.

Harga minyak mentah Brent tercatat berada di level 102,25 dolar AS per barel.

Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 93,47 dolar AS per barel.

Tekanan Domestik dan Pergerakan Obligasi

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari aksi jual obligasi pemerintah di berbagai tenor.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, termasuk tenor 10 tahun yang naik menjadi 6,73 persen.

Kenaikan imbal hasil mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan ke depan.

Kurs referensi Bank Indonesia melalui JISDOR juga tercatat melemah ke level Rp17.308 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.179 per dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa