HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Ingatkan Insentif Padat Karya Jangan Hambat Investasi Teknologi Masa Depan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonom Ingatkan Insentif Padat Karya Jangan Hambat Investasi Teknologi Masa Depan
Foto: (Sumber : Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil Solo, Jawa Tengah, Kamis (17/7/2025). (ANTARAFOTO/Maulana Surya/ag).)

Pantau - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah agar insentif fiskal berbasis padat karya tidak menghambat masuknya investasi teknologi tinggi di Indonesia.

Ia menilai kebijakan pengalihan insentif dari nilai investasi besar ke penyerapan tenaga kerja memang relevan untuk mengatasi fenomena jobless growth, namun tetap harus diimbangi dengan strategi jangka panjang.

Risiko Fokus Berlebihan pada Padat Karya

Yusuf menegaskan bahwa investasi teknologi tetap menjadi kunci pertumbuhan ekonomi masa depan.

“Kalau terlalu fokus ke padat karya, kita bisa tertinggal dalam menarik investasi teknologi tinggi yang justru jadi mesin pertumbuhan masa depan,” katanya.

Ia menilai tanpa strategi peningkatan produktivitas, kebijakan tersebut berisiko membuat ekonomi terjebak di level rendah.

“Kalau hanya menggeser ke padat karya tanpa strategi peningkatan produktivitas, kita berisiko mengunci ekonomi di level rendah,” ujarnya.

Perlunya Insentif yang Seimbang

Menurut dia, selama ini investasi padat modal kerap menghasilkan sedikit lapangan kerja meski bernilai besar, sementara sektor agro mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dengan investasi lebih kecil.

Namun, ia menekankan insentif harus dirancang lebih komprehensif, tidak hanya fiskal tetapi juga nonfiskal seperti percepatan perizinan, kepastian lahan, dan infrastruktur.

Yusuf juga menyoroti pentingnya dukungan transformasi seperti pelatihan tenaga kerja, adopsi teknologi, dan peningkatan produktivitas.

“Tanpa itu, insentif hanya jadi bantalan jangka pendek,” katanya.

Ia turut mengingatkan potensi risiko seperti melambatnya investasi padat modal, moral hazard perusahaan yang hanya mengejar jumlah tenaga kerja, hingga beban fiskal jika kebijakan tidak dievaluasi secara ketat.

Penulis :
Aditya Yohan