
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi berdasarkan laporan JP Morgan, yang menilai 52 negara konsumen energi terbesar secara global.
Pengakuan Global dan Faktor Pendukung
Bahlil mengatakan capaian tersebut menunjukkan kuatnya ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi.
"Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabene-nya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," ujarnya.
Indonesia berada di posisi kedua di bawah Afrika Selatan dan di atas Tiongkok yang menempati peringkat ketiga.
Ketahanan ini ditopang oleh produksi domestik minyak dan gas bumi yang cukup besar, cadangan batu bara yang melimpah, serta potensi energi baru dan terbarukan di berbagai wilayah.
Strategi Tingkatkan Produksi dan Kurangi Impor
Pemerintah mencatat lifting minyak tahun 2025 mencapai 605 ribu barel per hari dan ditargetkan meningkat menjadi 610 ribu barel per hari pada 2026.
Upaya peningkatan produksi dilakukan melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, serta eksplorasi di wilayah Indonesia timur.
Salah satu temuan terbaru berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, Kalimantan Timur, dengan potensi sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat.
"Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029," jelasnya.
Selain itu, pemerintah mendorong implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 untuk menekan impor bahan bakar minyak.
"Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor," kata Bahlil.
Diversifikasi Energi untuk Kemandirian
Pemerintah juga mengkaji substitusi LPG melalui pengembangan Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) yang mulai dimanfaatkan di sektor industri.
Langkah ini diharapkan memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





