
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi melemah pada perdagangan Rabu seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan tren kenaikan inflasi dunia.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.525 hingga Rp17.575 per dolar AS meski pada pembukaan perdagangan sempat menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp17.529 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.525 - Rp17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, index dollar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Ketegangan Timur Tengah Tekan Pasar Keuangan
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mempertimbangkan kembali aksi militer di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Sputnik dan Fox News, Gedung Putih tengah mempertimbangkan melanjutkan Operation Project Freedom untuk memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan peran militer yang lebih luas.
Trump disebut mulai kehilangan kesabaran terhadap Iran karena Selat Hormuz masih ditutup dan negosiasi konflik belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Sumber internal pemerintahan AS menyebut terdapat dua kubu dalam pemerintahan, yakni kelompok yang mendukung pengeboman terarah terhadap Iran dan kelompok yang tetap mendorong penyelesaian diplomatik.
IMF Prediksi Inflasi Global Meningkat
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap mata uang negara berkembang juga dipicu proyeksi perlambatan ekonomi global dan kenaikan inflasi.
International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat menjadi 2,5 persen, sementara inflasi diprediksi meningkat menjadi 5,4 persen apabila konflik geopolitik berlangsung panjang.
Rully juga menyoroti kondisi domestik yang dinilai menambah tekanan terhadap rupiah akibat semakin sempitnya ruang fiskal pemerintah.
Menurut dia, pemerintah dihadapkan pada pilihan untuk menurunkan skala prioritas anggaran atau melonggarkan defisit fiskal di atas tiga persen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





