
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan pendapatan sekitar Rp66 triliun pada tahun 2030 seiring rencana perluasan jaringan rel kereta api hingga lebih dari 7.000 kilometer sebagaimana tertuang dalam roadmap perusahaan 2025–2045.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan saat ini panjang rel yang beroperasi sekitar 6.700 kilometer dengan pendapatan perusahaan mencapai Rp35,7 triliun.
“Pada saat ini panjang rel hanya 6.700 km, revenue perusahaan Rp35,7 triliun. Diharapkan di tahun 2030 panjang rel akan lebih dari 7.000 km dengan revenue sekitar Rp66 triliun,” ungkap Bobby.
KAI menyusun roadmap transformasi menuju operator kereta api kelas dunia yang mengacu pada standar International Union of Railways (UIC) dan dibagi ke dalam lima tahap hingga 2045.
Pengembangan Jaringan dan Reaktivasi Jalur
Pada tahap kedua yang ditargetkan tercapai pada 2030, KAI akan meningkatkan kapabilitas inti perusahaan, memenuhi standar operator kereta api kelas dunia, serta menjadi titik balik pengembangan jaringan yang lebih luas.
KAI memperkirakan kebutuhan panjang rel nasional pada 2045 mencapai 37.000 kilometer hingga 60.000 kilometer.
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menilai perlu dilakukan reaktivasi jalur rel yang tidak aktif dan pengembangan jaringan yang mendukung konektivitas nasional.
Bobby mengungkapkan panjang rel aktif di Pulau Jawa saat ini masih kurang dari 7.000 kilometer.
“Di Jawa itu yang aktif kurang dari 7.000 km, sementara pada zaman Belanda sebenarnya sudah 10.000 km. Jadi kita bukan menambah jumlah rel di Jawa ini, tapi malah berkurang,” ujarnya.
TOD dan Integrasi dengan INKA Jadi Andalan
Pada tahap ketiga yang ditargetkan pada 2035, KAI akan fokus pada ekspansi jaringan kereta penumpang, optimalisasi angkutan barang, pengembangan bisnis logistik, serta pembangunan kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Pengembangan TOD telah dimulai di sejumlah lokasi seperti Manggarai, Kampung Bandan, Semarang, Surabaya, dan Bandung.
“TOD di kawasan prioritas. Kita sudah mulai di Manggarai, kita akan lanjut juga di Kampung Bandan. Kemudian kita sudah canangkan juga di Semarang, Surabaya, dan Bandung,” kata Bobby.
Saat ini sekitar 96 persen pendapatan KAI masih berasal dari angkutan penumpang serta angkutan barang dan logistik, sedangkan kontribusi bisnis TOD baru mencapai sekitar 4 persen.
Salah satu proyek utama yang tengah dikembangkan adalah TOD Manggarai yang akan memiliki hampir 5.000 unit hunian dan ditargetkan selesai pada 2027.
“Sekarang (TOD di Manggarai) dalam tahap pembangunan, itu ada sekitar hampir 5.000 unit perumahan yang ada di Manggarai,” ungkap Bobby.
Pada tahap keempat yang ditargetkan tercapai pada 2040, KAI juga menyiapkan integrasi dengan PT INKA untuk menyatukan kegiatan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dan manufaktur sarana perkeretaapian berbasis teknologi.
“Ini (eksplorasi bisnis) seiring dengan rencana integrasi antara PT KAI dan INKA. Jadi kalau selama ini maintenance atau MRO itu ada di KAI, di Balai Yasa, sementara manufacturing-nya itu ada di INKA, maka roadmap ke depannya adalah bagaimana kita mengintegrasikan industri yang berbasis teknologi,” jelasnya.
Pada 2025, KAI membukukan pendapatan Rp35,7 triliun dengan pendapatan angkutan penumpang naik 8 persen menjadi Rp12,9 triliun, laba meningkat 2 persen menjadi Rp2,3 triliun, dan EBITDA tumbuh 7 persen menjadi Rp8,3 triliun.
Kontribusi KAI terhadap penerimaan negara juga meningkat dari Rp4,4 triliun pada 2024 menjadi Rp6,8 triliun pada 2025 atau bertambah sekitar Rp2,4 triliun.
- Penulis :
- Shila Glorya





