HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan Seiring Meredanya Ketegangan Iran dan Israel

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Menguat pada Awal Perdagangan Seiring Meredanya Ketegangan Iran dan Israel
Foto: (Sumber : Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat 2,55 poin atau 0,05 persen ke level 5.344,69 pada pembukaan perdagangan Selasa (9/6/2026), didorong sentimen positif dari bursa global di tengah ekspektasi meredanya konflik antara Iran dan Israel.

Sentimen Global Dorong Penguatan Pasar

Selain IHSG, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut naik 1,22 poin atau 0,23 persen ke posisi 528,30.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyarankan investor mempertimbangkan strategi investasi berbasis dividen di tengah kondisi pasar yang masih menantang.

"Kiwoom Research sarankan mempertimbangkan dividend investing sebagai salah satu strategi defensif yang menarik, apalagi ketika momentum pasar sedang sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek, investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu," ungkap Liza.

Dari pasar global, optimisme muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mendorong tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel.

Meski kedua negara sementara menghentikan serangan, situasi masih dinilai rapuh karena ancaman balasan dari kedua pihak tetap terbuka.

Meredanya kekhawatiran geopolitik turut menekan harga minyak dunia.

  • Minyak mentah jenis WTI turun 0,46 persen menjadi 90,88 dolar AS per barel.
  • Minyak mentah Brent melemah 0,35 persen menjadi 93,92 dolar AS per barel.

Investor Cermati Inflasi AS dan Kondisi Domestik

Pelaku pasar pekan ini juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat melalui Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Goldman Sachs menunda proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed hingga 2027 dan memperkirakan inflasi inti tetap berada di atas 3 persen sepanjang 2026.

Lembaga tersebut juga meningkatkan peluang kenaikan suku bunga menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026 dari posisi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026.

Penurunan tersebut dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski menurun selama lima bulan berturut-turut, cadangan devisa Indonesia masih setara 5,6 bulan impor dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional.

Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada Danantara setelah terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2026 yang membuka peluang penggunaan APBN untuk penyertaan modal pada holding investasi tersebut.

"Dengan status baru sebagai instrumen fiskal pemerintah dan kemungkinan memperoleh PMN dari APBN, investor diperkirakan akan semakin mencermati apakah Danantara mampu menjadi katalis investasi nasional atau justru berkembang menjadi tambahan beban bagi fiskal negara," ujar Liza.

Penulis :
Ahmad Yusuf