
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 16,35 poin atau 0,28 persen ke level 5.886,03 pada perdagangan Kamis sore di tengah aksi profit taking investor dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
IHSG terkoreksi setelah sebelumnya sempat dibuka menguat, kemudian bergerak ke wilayah negatif hingga penutupan sesi pertama dan tetap berada di zona merah sampai akhir sesi kedua perdagangan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, “IHSG ditutup melemah di tengah profit taking dan sentimen eksternal.”
Faktor Eksternal dan Aksi Ambil Untung Menekan IHSG
Investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko atau risk off seiring koreksi tajam indeks saham di Wall Street, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan harga emas, dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Selain dipengaruhi faktor eksternal, aksi ambil untung juga terjadi setelah IHSG mencatat penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut pada Selasa (9 Juni 2026) dan Rabu (10 Juni 2026).
Pada sesi II perdagangan Kamis, tekanan terhadap IHSG mulai mereda setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat telah menyelesaikan serangan terhadap Iran.
Pelemahan harga minyak dunia turut membantu mengurangi tekanan di pasar saham domestik.
Sentimen positif lainnya datang dari rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ratna Lim mengungkapkan, “Sehingga, diperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji level 5900-5950 (besok).”
Pergerakan Sektor dan Agenda yang Dicermati Investor
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor mencatat penguatan dengan sektor properti memimpin kenaikan sebesar 0,74 persen, diikuti sektor keuangan yang naik 0,64 persen dan sektor kesehatan yang menguat 0,56 persen.
Di sisi lain, enam sektor mengalami pelemahan dengan sektor barang baku turun paling dalam sebesar 4,27 persen, disusul sektor energi yang melemah 2,01 persen serta sektor transportasi dan logistik yang terkoreksi 1,43 persen.
Saham dengan penguatan terbesar pada perdagangan tersebut meliputi KOPI, UVCR, OILS, TMPO, dan RISE.
Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah TRUE, HRTA, TRIN, SAPX, dan BMSR.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.375.140 transaksi dengan volume mencapai 33,50 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp22,25 triliun.
Sebanyak 265 saham menguat, 419 saham melemah, dan 131 saham ditutup tidak berubah.
Untuk pekan depan, pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga acuan Federal Reserve dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni 2026.
Dari dalam negeri, investor juga menunggu pengumuman MSCI Accessibility Review pada 18 Juni 2026 serta keputusan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Juni 2026.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 71,73 poin atau 0,11 persen menjadi 64.251,00, indeks Shanghai melemah 6,21 poin atau 0,16 persen menjadi 3.987,01, indeks Hang Seng turun 158,67 poin atau 0,65 persen menjadi 24.249,29, sedangkan indeks Strait Times naik 35,63 poin atau 0,72 persen menjadi 4.994,48.
- Penulis :
- Shila Glorya





