HOME  ⁄  Ekonomi

Ketahanan Pangan Menguat, Menteri Pertanian Menyatakan Beras Tak Lagi Menjadi Penyumbang Utama Inflasi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Ketahanan Pangan Menguat, Menteri Pertanian Menyatakan Beras Tak Lagi Menjadi Penyumbang Utama Inflasi
Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (sumber: Kementan)

Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi karena produksi dan pasokan pangan nasional semakin kuat sehingga mampu menjaga stabilitas harga di tengah kebutuhan masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan atau year-on-year pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen dan inflasi bulanan atau month-to-month sebesar 0,28 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, “Untuk Mei 2026 inflasi month-to-month sebesar 0,28 persen. Kalau dibandingkan dengan momen Idul Fitri, inflasi pada momen Idul Adha relatif lebih rendah. Untuk komoditas pangan, andilnya terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu tinggi.”

Komoditas Pangan Tetap Terkendali

Amalia menjelaskan bahwa komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi Mei meliputi cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin.

Secara umum, kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi tetap berada dalam kondisi terkendali dengan beras tidak termasuk sebagai pemicu inflasi karena stok yang tersedia dinilai sangat kuat.

Stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Perum Bulog telah mencapai lebih dari 5 juta ton sehingga mendukung stabilitas pasokan nasional.

Kementerian Pertanian terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga bersama pemerintah daerah, Bulog, dan ID Food untuk mempertahankan kondisi tersebut.

Amran mengungkapkan, “Bawang merah ini anomali karena kita sudah ekspor. Distribusinya yang akan kita perbaiki ke depan. Untuk minyak goreng, bahan bakunya lebih dari cukup sehingga perlu percepatan distribusi ke daerah.”

Amran meminta seluruh pemerintah daerah bersama Bulog mengaktifkan pasar murah guna menjaga keseimbangan harga di masyarakat.

Ia juga menyampaikan, “Kami mohon seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog mengaktifkan pasar murah beras, ayam, dan telur. Harga ayam dan telur saat ini perlu dukungan agar Bulog dan ID Food menjadi offtaker dan menjaga keseimbangan harga.”

Program pasar murah tersebut diharapkan dapat membantu peternak ayam dan telur yang sedang menghadapi tekanan harga.

Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan konsumsi telur dan daging ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis dari satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu.

Amran menyatakan, “Ini bisa menjadi alat kontrol terhadap turunnya harga pangan sekaligus membantu peternak.”

Klaim Swasembada dan Penguatan Pasokan Nasional

Amran menegaskan ketahanan pangan nasional semakin kokoh dengan delapan dari 11 komoditas pangan yang dikendalikan pemerintah telah mencapai swasembada.

Tiga komoditas yang masih dipenuhi sebagian melalui impor adalah bawang putih, kedelai, dan daging.

Ia menjelaskan, “Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4 persen. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan.”

Kementerian Pertanian optimistis penguatan produksi, kelancaran distribusi, dan sinergi dengan pemerintah daerah akan menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi nasional dan menjaga daya beli masyarakat.

Kementerian Pertanian juga memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman dengan stabilnya pasokan beras dan komoditas strategis lainnya yang dinilai membuat kontribusi sektor pangan terhadap inflasi semakin rendah.

Penulis :
Leon Weldrick