
Pantau - Realisasi penerimaan pajak di Bali sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai Rp7,02 triliun atau tumbuh 11,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,3 triliun.
Pencapaian tersebut tercatat hampir 29 persen dari target penerimaan pajak tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp24,3 triliun.
Seluruh Jenis Pajak Tumbuh Positif
Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali Supendi mengatakan seluruh jenis penerimaan pajak di Pulau Dewata menunjukkan pertumbuhan positif secara tahunan.
“Realisasi itu mencapai hampir 29 persen dari pagu Rp24,3 triliun,” kata Supendi di sela diskusi Bali Fiscal Insight di Denpasar, Selasa.
Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) 25/29 Badan tercatat mencapai Rp1,91 triliun atau tumbuh 4,71 persen.
PPh 25/29 Orang Pribadi mencapai Rp313,63 miliar atau meningkat 19,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) mencapai Rp1,76 triliun atau naik 23,60 persen.
Adapun penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tercatat sebesar Rp760 juta atau melonjak 262,42 persen secara tahunan.
Perdagangan dan Pariwisata Jadi Penopang Utama
Dari sisi sektor usaha, perdagangan menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak di Bali dengan nilai Rp1,24 triliun atau tumbuh 17,7 persen.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menyusul dengan kontribusi Rp1,14 triliun atau meningkat 16,34 persen.
Aktivitas keuangan dan asuransi turut memberikan kontribusi signifikan sebesar Rp969,1 miliar atau tumbuh 13,79 persen.
Kinerja tersebut memperlihatkan sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi pendukungnya masih menjadi tulang punggung penerimaan pajak di Bali.
Optimistis Capai Target Meski Dihadapkan Ketidakpastian Global
Kepala DJP Bali Darmawan menyatakan tetap optimistis terhadap pencapaian target penerimaan pajak hingga akhir 2026 meski kondisi geopolitik global masih bergejolak.
Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, termasuk stabilitas pengiriman logistik minyak mentah dan mulai membaiknya ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional.
“Ekonomi Bali menunjukkan daya tahan meski pun ada volatibilitas global tapi meski menggembirakan tidak bisa lengah karena ekonomi Bali tergantung sektor pariwisata yang memiliki risiko,” ungkap Darmawan.
Pemerintah berharap tren pertumbuhan penerimaan pajak dapat terus berlanjut seiring pemulihan aktivitas ekonomi dan meningkatnya kinerja sektor-sektor utama di Bali.
- Penulis :
- Aditya Yohan





