HOME  ⁄  Ekonomi

Destry Damayanti Ingatkan Kualitas Kredit UMKM Harus Jadi Prioritas untuk Perkuat Ekonomi Nasional

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Destry Damayanti Ingatkan Kualitas Kredit UMKM Harus Jadi Prioritas untuk Perkuat Ekonomi Nasional
Foto: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan kata sambutan dalam acara "Economic Briefing 2026" di Jakarta, Jumat 24/7/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan bahwa penyaluran kredit kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya perlu diukur dari besarnya pertumbuhan, tetapi juga dari kualitas pembiayaan agar benar-benar mendorong sektor produktif serta memperluas akses pembiayaan.

Ia mengatakan, "Apakah kredit tersebut masuk ke sektor yang produktif, apakah sektor kecil itu juga mendapatkan pertumbuhan ataupun akses dari perbankan yang relatif sama dengan yang perusahaan-perusahaan besar."

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit UMKM pada Mei 2026 tumbuh sebesar 0,60 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit usaha mikro yang tumbuh 0,64 persen (yoy) dan kredit usaha menengah yang meningkat 1,84 persen (yoy).

Sementara itu, kredit usaha kecil masih mengalami kontraksi sebesar 0,24 persen (yoy).

Meski kinerja kredit UMKM membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat mencatat pertumbuhan negatif, Destry menilai peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

BI Perkuat Dukungan Lewat Insentif dan Digitalisasi

Destry menilai pertumbuhan UMKM yang diiringi kualitas pembiayaan akan menjadi salah satu pendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif.

Untuk mendukung hal tersebut, BI memberikan berbagai insentif melalui kebijakan makroprudensial.

Salah satu kebijakan tersebut adalah kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).

KLM bertujuan mendorong perbankan menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor strategis, termasuk UMKM.

Bank yang memenuhi ketentuan dapat memperoleh insentif berupa penurunan giro wajib minimum (GWM).

Penurunan GWM memberikan ruang likuiditas yang lebih besar bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit.

Selain dari sisi pembiayaan, BI juga terus memperluas inklusi keuangan melalui pengembangan sistem pembayaran digital, salah satunya QRIS.

Saat ini jumlah pengguna QRIS telah mencapai 66 juta.

Jumlah merchant QRIS telah mencapai 45 juta.

Sekitar 90 persen merchant QRIS merupakan pelaku UMKM.

Ia mengungkapkan, "Jadi, tujuan kami bagaimana kami mengembangkan sistem pembayaran yang inklusif. Alhamdulillah, sudah mulai kelihatan hasilnya. Tapi ini tinggal terus kita tingkatkan lagi ke depan."

UMKM Jadi Tulang Punggung Ekonomi, Masih Hadapi Berbagai Tantangan

Destry menegaskan penguatan UMKM sangat penting karena sektor tersebut merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

Indonesia memiliki sekitar 64 juta UMKM.

UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

UMKM juga menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.

Sekitar 60 persen pelaku UMKM merupakan perempuan.

Ia menegaskan, "Suatu negara itu akan mempunyai daya tahan kuat, kalau sumber pertumbuhan majority itu menjadi perhatian."

Menurut Destry, UMKM bukan sekadar penyumbang pertumbuhan ekonomi, melainkan nadi perekonomian Indonesia sehingga penguatannya harus menjadi perhatian bersama BI, OJK, pemerintah, dan para pemangku kepentingan.

Di sisi lain, ia mengakui UMKM masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses pembiayaan, kapasitas manajemen, adaptasi digital, hingga perluasan akses pasar.

Menurutnya, sebagian besar UMKM masih menghadapi keterbatasan dalam memperluas jangkauan pemasaran, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, sehingga tantangan menjadi lebih besar ketika ingin menembus pasar ekspor.

Ia mengatakan, "Saat ini, dari jumlah UMKM 64 juta-an, yang mampu ekspor hanya sekitar 15 persen dan itu pun untuk jenis-jenis tertentu."

Destry menyebut industri kopi sebagai salah satu contoh UMKM yang relatif berhasil memperluas akses pasar karena kopi Indonesia telah dikenal luas di pasar internasional berkat cita rasa yang beragam.

Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah barista bersertifikat maupun pelaku usaha kopi yang memenuhi standar internasional masih terbatas.

Ia mengatakan, “Namun, jumlah barista bersertifikat maupun pelaku usaha kopi yang memenuhi standar internasional masih terbatas. Padahal, apabila ingin masuk ke pasar global, kualitas produk dan sumber daya manusianya juga harus terus ditingkatkan.”

Penulis :
Shila Glorya