HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Anjlok 1,88 Persen, Gejolak Timur Tengah dan Tarif Baru Amerika Serikat Tekan Pasar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Anjlok 1,88 Persen, Gejolak Timur Tengah dan Tarif Baru Amerika Serikat Tekan Pasar
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88 persen ke posisi 6.196,43 pada Jumat sore seiring pelemahan bursa saham Asia yang dipicu meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat.

IHSG dibuka melemah pada awal perdagangan dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama.

IHSG tetap berada di wilayah negatif pada sesi kedua hingga penutupan perdagangan.

Indeks LQ45 turut melemah 12,33 poin atau 1,97 persen ke posisi 614,79.

Gejolak Timur Tengah dan Tarif Baru Tekan Sentimen Pasar

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, "IHSG dan bursa regional Asia melemah seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah."

Ia mengungkapkan, "Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali meningkat memicu kekhawatiran inflasi, setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah."

Menurutnya, tekanan pasar semakin besar setelah harga minyak mentah Brent naik hingga di atas 100 dolar AS per barel sehingga memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Iran menembak kapal di Selat Hormuz.

Trump juga menyatakan akan meningkatkan perang dengan Iran ketika Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman melakukan serangan.

Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap pasokan energi dunia, memperbesar kekhawatiran inflasi global, dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Di sisi lain, Trump akan mulai memberlakukan tarif baru pada Jumat waktu Amerika Serikat yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Tarif baru sebesar 10 hingga 12,5 persen dikenakan terhadap impor dari sebagian besar mitra dagang utama dan berlaku untuk barang dari 60 mitra dagang.

Nico mengatakan, "Kebijakan itu tentunya akan berpotensi terjadi disrupsi rantai pasokan dan meningkatnya ketidakpastian, ancaman stagflasi, perlambatan sektoral sehingga ini akan membuat perlambatan pertumbuhan ekonomi global."

Dampak Domestik dan Pergerakan Pasar

Dari sisi domestik, meningkatnya harga minyak dunia dan tarif baru Amerika Serikat diperkirakan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

Beban APBN diperkirakan meningkat akibat naiknya subsidi energi sehingga ruang fiskal pemerintah berpotensi semakin sempit.

Kondisi tersebut diperkirakan mendorong laju inflasi, meningkatkan potensi kenaikan suku bunga acuan, memperbesar ancaman terhadap defisit neraca perdagangan, menekan nilai tukar rupiah, serta melemahkan daya beli masyarakat.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami pelemahan.

Sektor barang konsumen nonprimer mencatat penurunan terdalam sebesar 3,26 persen.

Sektor barang baku turun 3,06 persen.

Sektor transportasi dan logistik melemah 2,81 persen.

Saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu MCAS, ALKA, BULL, GOLD, dan KLIN.

Saham yang mengalami pelemahan terbesar yaitu BAPA, COCO, FILM, JGLE, dan JELI.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.229.000 kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 35,96 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,70 triliun.

Sebanyak 113 saham menguat, 618 saham melemah, dan 234 saham tidak mengalami perubahan harga.

Bursa saham Asia juga ditutup melemah dengan Indeks Nikkei turun 2,79 persen ke 64.572,00, Indeks Shanghai turun 1,61 persen ke 3.814,20, Indeks Hang Seng turun 0,98 persen ke 24.963,23, Indeks Kospi turun 5,72 persen ke 6.690,62, serta Indeks Strait Times turun 0,12 persen ke 5.575,11.

Penulis :
Leon Weldrick