HOME  ⁄  Ekonomi

INDEF Nilai Kepastian Kebijakan Pajak Jadi Kunci Menarik Investasi di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

INDEF Nilai Kepastian Kebijakan Pajak Jadi Kunci Menarik Investasi di Tengah Ketidakpastian Global
Foto: (Sumber :Pendiri dan Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini dalam forum 17th Annual Asia-Pacific Tax Forum (APTF) 2026, di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (27/7/2026) (ANTARA/HO INDEF).)

Pantau - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kepastian regulasi kebijakan pajak menjadi faktor utama dalam menarik investasi di tengah meningkatnya tantangan ekonomi global yang dipicu proteksionisme, kebijakan tarif, dan fragmentasi perdagangan.

Kepastian Pajak Dinilai Perkuat Daya Saing Investasi

Pendiri dan Ekonom Senior INDEF Prof. Didik J. Rachbini mengatakan kebijakan pajak tidak lagi hanya berfungsi sebagai instrumen penghimpun penerimaan negara, tetapi juga menjadi strategi memperkuat daya saing, mendorong investasi produktif, menjaga keadilan, dan membiayai pembangunan berkelanjutan.

“Ketika kebijakan tarif, proteksionisme, dan fragmentasi perdagangan menciptakan ketidakpastian baru, koordinasi regional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis," ungkapnya.

Dalam forum 17th Annual Asia-Pacific Tax Forum (APTF) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Didik menyatakan penerapan Global Minimum Tax melalui skema Pillar Two telah mengubah lanskap persaingan investasi antarnegara.

INDEF menilai insentif pajak tidak lagi cukup menjadi daya tarik utama investasi tanpa didukung kualitas infrastruktur, kepastian kebijakan, tenaga kerja yang terampil, transfer teknologi, dan rantai pasok domestik yang kuat.

Menurut INDEF, tanpa perbaikan faktor-faktor tersebut, pemberian insentif pajak berpotensi mengurangi penerimaan negara tanpa menghasilkan tambahan investasi, peningkatan produktivitas, maupun penciptaan lapangan kerja yang sepadan.

Reformasi Perpajakan dan Transisi Hijau Jadi Sorotan

Didik juga menekankan pentingnya reformasi administrasi perpajakan seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital agar modernisasi sistem mampu meningkatkan penerimaan negara sekaligus menekan biaya kepatuhan dan memberikan kepastian bagi dunia usaha.

Ia menambahkan kebijakan fiskal seperti pajak karbon dan insentif fiskal hijau dapat mendorong investasi rendah karbon serta inovasi teknologi, namun penerapannya harus mempertimbangkan kesiapan industri dan dampaknya terhadap masyarakat berpendapatan rendah.

“Transisi hijau harus menjadi transisi yang adil. Kebijakan fiskal jangan sampai menciptakan beban ekonomi baru atau memperlebar ketimpangan," ujarnya.

Forum APTF 2026 juga mempertemukan INDEF dengan Malaysian Association of Tax Accountants (MATA) untuk memperkuat kolaborasi perpajakan di kawasan Asia-Pasifik guna meningkatkan kepastian kebijakan, mencegah persaingan pajak yang merugikan, serta menjaga daya saing investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

INDEF berharap forum tersebut menghasilkan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan kerja sama konkret guna membangun sistem perpajakan yang lebih adaptif, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan