HOME  ⁄  Ekonomi

Pemprov Banten dan Prefektur Mie Jepang Jajaki Kerja Sama Peningkatan SDM Menuju Sister Province

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pemprov Banten dan Prefektur Mie Jepang Jajaki Kerja Sama Peningkatan SDM Menuju Sister Province
Foto: (Sumber :Gubernur Banten Andra Soni saat menerima kunjungan Parlemen Prefektur Mie Jepang di Kantor Gubernur Banten Serpong Utara, Tangerang Selatan. ANTARA/HO-Pemprov Banten..)

Pantau - Pemerintah Provinsi Banten dan Parlemen Prefektur Mie, Jepang, menjajaki kerja sama peningkatan sumber daya manusia (SDM) sebagai langkah menuju pembentukan sister province sekaligus mendorong masuknya investasi ke Banten.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan penjajakan kerja sama tersebut telah dibahas dalam dua pertemuan, yakni pada 6 Mei 2025 dan 3 Agustus 2026.

Pada pertemuan terakhir, rombongan Parlemen Prefektur Mie diajak meninjau fasilitas praktik Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Provinsi Banten di Serpong Utara, Tangerang Selatan.

"Kita perlihatkan fasilitas pelatihan kita, dan kita akan bertahap sampai pada sister province. Kita akan memfasilitasi investor Prefektur Mie untuk masuk ke Provinsi Banten," kata Andra Soni.

Banten Buka Peluang Investasi Jepang

Andra Soni mengungkapkan Pemerintah Provinsi Banten menargetkan kerja sama dengan sejumlah provinsi di luar negeri melalui skema sister province.

Ia menegaskan pemerintah daerah juga telah menyiapkan kantor promosi untuk menarik investasi ke Banten.

"Provinsi Banten sangat terbuka dengan investasi. Tentunya investasi ini yang selaras dengan apa yang dicanangkan presiden, khususnya hilirisasi," tegasnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten Virgojanti mengatakan kunjungan Parlemen Prefektur Mie mendapat respons positif dengan fokus utama pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia menambahkan peluang kerja sama bisnis antara Banten dan Prefektur Mie terbuka lebar karena Banten memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar.

BLK Disiapkan Penuhi Kebutuhan Industri Jepang

Kepala Dinas Tenaga Kerja Banten Septo Kalnadi mengatakan tantangan utama tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di Jepang tidak hanya terkait penguasaan teknologi industri, tetapi juga penyesuaian budaya dan kemampuan bahasa.

Menurutnya, Pemprov Banten memiliki balai latihan kerja di Kabupaten Pandeglang dengan lahan yang lebih luas untuk dikembangkan sesuai kebutuhan industri di Prefektur Mie.

"Namun itu sudah diberikan pelatihan dan pembiasaan di lembaga pelatihan sebelum dikirim ke Jepang," katanya.

Penulis :
Aditya Yohan