HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Diproyeksi Melemah, Pelaku Pasar Tunggu Data NFP AS dan PDB Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Diproyeksi Melemah, Pelaku Pasar Tunggu Data NFP AS dan PDB Indonesia
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/n

Pantau - Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah dalam jangka pendek seiring pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, di tengah sentimen eksternal yang masih mendominasi.

Perkiraan tersebut disampaikan Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa di Jakarta, Rabu (5/8).

Sentimen Global Masih Tekan Rupiah

Amru mengatakan pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Ia mengungkapkan, "Pelemahan rupiah saat ini masih lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve."

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga masih mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi domestik, pasar turut mencermati defisit Neraca Perdagangan Indonesia Juni 2026 yang lebih kecil dari perkiraan serta inflasi Juli yang masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia.

PDB Indonesia Berpotensi Jadi Sentimen Positif

Amru menyebut perhatian investor juga tertuju pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.

Ia mengatakan, "Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid."

Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Menurut Amru, tekanan eksternal masih mendominasi, namun ruang pelemahan diperkirakan terbatas karena didukung inflasi domestik yang terkendali, prospek pertumbuhan ekonomi yang positif, serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.

Ia menambahkan, "Jika PDB Indonesia lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpeluang menguat. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan penguatan sehingga mendorong dolar AS terapresiasi, rupiah masih berpotensi bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi tersebut."

Penulis :
Aditya Yohan