HOME  ⁄  Ekonomi

MIND ID Dorong Produksi Emas Nasional untuk Perkuat Cadangan Devisa Indonesia

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

MIND ID Dorong Produksi Emas Nasional untuk Perkuat Cadangan Devisa Indonesia
Foto: Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dalam acara MINDialogue dengan tema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” yang digelar di Jakarta, Rabu 12/8/2026 (sumber: ANTARA/Putu Indah Savitri)

Pantau - MIND ID mendorong peningkatan produksi emas dalam negeri untuk mendukung penguatan cadangan devisa Indonesia dengan tetap mengikuti kebijakan dan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.

Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyampaikan langkah tersebut dalam MINDialogue bertema “Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI” di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.

“Emas merupakan produksi dalam negeri yang berpotensi menjadi sumber aset strategis yang dapat mendukung penguatan cadangan devisa negara,” ungkap Maroef.

Menurut Maroef, posisi emas sebagai komoditas strategis semakin signifikan karena tidak hanya mempunyai nilai ekonomi tinggi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari cadangan internasional yang dimiliki bank sentral.

Atas dasar tersebut, MIND ID mendorong peningkatan produksi emas nasional melalui penguatan sektor hulu hingga pengolahan agar komoditas tersebut masuk ke rantai pasok formal.

MIND ID Dorong Pertambangan Rakyat Masuk IPR

Pada sektor hulu, MIND ID mendorong pembenahan dan formalisasi kegiatan pertambangan rakyat melalui Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

“Di sektor hulu, kami mendorong transformasi proses formalisasi pertambangan rakyat menjadi IPR (Izin Pertambangan Rakyat) melalui harmonisasi regulasi, serta pembinaan teknis bagi pertambangan rakyat,” kata Maroef.

Proses formalisasi tersebut dilakukan melalui harmonisasi regulasi sekaligus pembinaan teknis kepada pelaku pertambangan rakyat.

Melalui skema IPR, MIND ID menargetkan emas hasil pertambangan rakyat dapat masuk ke rantai pasok formal dan selanjutnya diserap fasilitas pemurnian yang memenuhi standar internasional.

Salah satu standar internasional yang menjadi acuan dalam pemurnian emas tersebut adalah London Bullion Market Association (LBMA).

Selain memperkuat sektor hulu, MIND ID memandang penguatan juga diperlukan pada industri tahap menengah atau midstream, terutama dalam kegiatan pengolahan bijih.

Pada tahap tersebut, pengolahan bijih didorong melibatkan lembaga agregator yang memiliki badan hukum resmi untuk memastikan komoditas dapat ditelusuri melalui rantai pasok formal.

“Kehadiran agregator ini berfungsi untuk menjamin keterlacakan rantai pasok melalui sistem formal,” ungkap Maroef.

Cadangan Devisa Indonesia Capai 145,3 Miliar Dolar AS

Dorongan memperkuat peran emas nasional disampaikan ketika cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia, posisi tersebut turun tipis 0,3 miliar dolar AS dibandingkan cadangan devisa pada akhir Juni 2026 yang mencapai 145,6 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menyampaikan perkembangan cadangan devisa pada Juli 2026 terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan obligasi global atau global bond pemerintah.

Pada periode yang sama, pemerintah melakukan pembayaran utang luar negeri, sementara Bank Indonesia menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Cadangan devisa sebesar 145,3 miliar dolar AS tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor.

Jika memperhitungkan kebutuhan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah, posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,3 bulan.

Jumlah itu masih berada di atas standar kecukupan cadangan devisa internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Melalui strategi dari sektor hulu hingga pengolahan, MIND ID mendorong produksi emas domestik semakin terintegrasi dalam rantai pasok formal sehingga berpotensi menjadi aset strategis untuk mendukung penguatan cadangan devisa Indonesia.

Penulis :
Arian Mesa