
Pantau - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan bibit padi Biosalin I dan Biosalin II di lahan bekas terdampak rob di Klidungan, Kecamatan Pekalongan Utara, sebagai upaya memperluas areal produksi pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian.
Varietas Biosalin dipilih karena mampu tumbuh produktif pada lahan bekas rob dengan kondisi salinitas atau kadar garam relatif tinggi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan Lili Sulistyawati mengatakan pengembangan Biosalin I dan Biosalin II menjadi salah satu alternatif untuk kembali memanfaatkan lahan pertanian yang sebelumnya terdampak rob.
Smart Farming Diterapkan dalam Budi Daya
Program pengembangan padi Biosalin turut didukung penerapan teknologi melalui demplot smart farming untuk meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Teknologi tersebut dimanfaatkan dalam berbagai tahapan budi daya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga pemupukan.
"Pengembangan padi Biosalin tersebut juga didukung penerapan teknologi melalui demplot smart farming. Mulai dari pengolahan lahan, penanaman hingga pemupukan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi budi daya," ungkap Lili.
Lahan bekas rob di wilayah utara Kota Pekalongan dinilai memiliki potensi cukup besar untuk kembali dimanfaatkan sebagai lahan produksi pangan.
Total lahan bekas rob yang berpotensi dikembangkan mencapai sekitar 95 hektare, dengan sekitar 56 hektare di antaranya saat ini telah ditanami padi.
Pada musim kemarau, varietas Biosalin dinilai lebih sesuai untuk dibudidayakan karena mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lahan yang terdampak salinitas.
Produktivitas Biosalin Capai 8,2 Ton per Hektare
Hasil panen sebelumnya menunjukkan produktivitas padi Biosalin yang dinilai menggembirakan pada sejumlah lokasi.
Produktivitas padi Biosalin di salah satu lokasi tercatat sekitar 6,6 ton per hektare, sedangkan di wilayah Krapyak berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 8,2 ton per hektare.
"Dari hasil panen sebelumnya, produktivitas padi Biosalin juga menunjukkan hasil menggembirakan. Produktivitas di salah satu lokasi tercatat sekitar 6,6 ton per hektare sedangkan hasil di wilayah Krapyak berdasarkan laporan BPS mencapai 8,2 ton per hektare," kata Lili.
Capaian tersebut menunjukkan lahan bekas rob masih memiliki peluang untuk menghasilkan pangan secara optimal apabila dikelola dengan teknologi pertanian dan varietas yang sesuai dengan karakteristik lahan.
Pemerintah Kota Pekalongan berharap kombinasi teknologi smart farming, pemilihan varietas yang tepat, serta kepastian pasar dapat membuat pengembangan padi Biosalin semakin produktif.
Pengembangan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan perekonomian petani.
Pemkot Pastikan Pasar Hasil Panen
Pemerintah Kota Pekalongan turut memberikan kepastian pemasaran hasil panen agar petani tidak khawatir saat memasuki masa panen.
Hasil panen petani disebut telah dapat ditampung oleh penggilingan padi atau rice mill, sementara Bulog juga siap melakukan penyerapan.
"Kami minta petani tidak perlu khawatir mengenai pemasaran hasil panen. Kalau panen itu no problem pasarnya karena rice mill kita sudah menampung dan Bulog sudah langsung menyerap," ujar Lili.
Pemerintah daerah berharap kepastian pasar tersebut dapat mendukung keberlanjutan pemanfaatan lahan bekas rob untuk produksi pangan di Kota Pekalongan.
- Penulis :
- Leon Weldrick



