HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.748 per Dolar AS, Pasar Merespons Rencana Pemangkasan Kuota BBM Subsidi

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.748 per Dolar AS, Pasar Merespons Rencana Pemangkasan Kuota BBM Subsidi
Foto: Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin 27/7/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat 92 poin atau 0,52 persen menjadi Rp17.748 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, dari posisi sebelumnya Rp17.840 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah antara lain dipengaruhi respons positif pasar terhadap rencana pemerintah memangkas kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada 2027.

Pemangkasan Kuota BBM Subsidi Jadi Perhatian

Ibrahim menyebut pemangkasan kuota BBM bersubsidi dapat mencapai 58,5 persen sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pengendalian penyaluran subsidi.

Menurut dia, besarnya pengurangan kuota tersebut berpotensi membuat masyarakat yang selama ini bergantung pada BBM bersubsidi menghadapi akses yang lebih ketat, terutama pengguna Pertalite.

"Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Dari sisi energi, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel untuk 2027.

Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan harga minyak saat ini yang disebut berada di kisaran 83 dolar AS per barel sehingga perbedaannya dinilai perlu mendapat perhatian.

Ibrahim mengatakan persoalan BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat karena Pertalite banyak digunakan untuk kendaraan penunjang aktivitas sehari-hari.

"Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari," ungkap Ibrahim.

Investor Menanti Data Transaksi Berjalan

Selain sentimen domestik, pasar masih dibayangi sikap hati-hati investor menjelang publikasi data transaksi berjalan Indonesia kuartal II yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini.

Kehati-hatian tersebut muncul setelah defisit transaksi berjalan pada kuartal I sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 di tengah melemahnya kinerja perdagangan akibat gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Gejolak geopolitik tersebut juga menyebabkan harga minyak mentah dunia terus mengalami penguatan.

Imbal Hasil US Treasury Turun

Dari sentimen global, Departemen Keuangan Amerika Serikat meningkatkan program pembelian kembali sekuritas jangka panjang untuk mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang yang telah berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun.

Kebijakan itu turut memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury, dengan tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin dan tenor 30 tahun turun hampir 9 basis poin.

"Imbal hasil acuan Treasury AS tenor 10-tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps) dan imbal hasil tenor 30-tahun turun hampir 9 basis points (bps) setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) untuk mendukung likuiditas pada surat berharga pemerintah berjangka waktu lebih panjang," ujar Ibrahim.

Penguatan rupiah juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berada di level Rp17.779 per dolar AS pada Kamis, menguat dari posisi sebelumnya Rp17.844 per dolar AS.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi kombinasi sentimen domestik terkait rencana pengendalian subsidi BBM dan faktor global berupa penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Penulis :
Shila Glorya