
Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar ekspor dengan mempertemukan mereka dengan calon mitra strategis atau pembeli dari luar negeri melalui program business matching secara daring.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Budi Santoso mengatakan pemerintah memberikan fasilitasi kepada UMKM yang produknya telah siap memasuki pasar ekspor melalui jaringan Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC).
Jaringan Atase Perdagangan dan ITPC tersebut saat ini tersebar di 33 negara dan dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha Indonesia mencari peluang pasar.
UMKM Bisa Presentasi Daring Tanpa Bahasa Asing
Dalam pelaksanaan business matching, pelaku UMKM cukup mempresentasikan produk yang ingin diekspor secara daring kepada calon mitra atau pembeli yang telah dipertemukan oleh Kemendag.
Pelaku UMKM juga tidak diwajibkan menguasai bahasa asing karena Kemendag dapat membantu proses penerjemahan selama pertemuan berlangsung.
"Jadi, pelaku UMKM cukup presentasi secara daring, mau pakai bahasa Jawa, bahasa Indonesia bebas, nanti kami yang menerjemahkan," ungkap Budi.
Budi mencontohkan pelaku usaha yang ingin mengekspor produk ke Amerika Serikat dapat dipertemukan secara daring dengan perwakilan perdagangan Indonesia, termasuk melalui Atase Perdagangan yang berada di Los Angeles maupun Chicago.
Fasilitasi tersebut tidak hanya tersedia bagi UMKM yang membidik Amerika Serikat, tetapi juga bagi pelaku usaha yang ingin memasuki pasar China, Jepang, berbagai negara di Eropa, serta negara lainnya.
Budi memaparkan program business matching telah menghasilkan transaksi senilai 134,8 juta dolar AS sepanjang 2025.
Nilai transaksi melalui program tersebut kemudian meningkat menjadi 333 juta dolar AS pada periode Januari-Juli 2026.
Menurut Budi, sekitar 70 persen pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut sebelumnya belum pernah melakukan ekspor.
"Itu 70 persen belum pernah ekspor, apalagi kalau pelaku UMKM ini sudah ekspor, lebih mudah lagi. Karena kalau belum pernah ekspor harus kami ajari dari awal, mulai pelatihan, kemudian standardisasi produknya," ungkap Budi.
UMKM yang belum memiliki pengalaman ekspor akan mendapatkan pendampingan sejak tahap awal, termasuk pelatihan dan pemenuhan standardisasi agar produknya siap memasuki pasar internasional.
Sementara itu, pelaku UMKM yang sebelumnya telah melakukan ekspor dinilai lebih mudah mendapatkan fasilitasi lanjutan karena telah memiliki pengalaman memasuki pasar luar negeri.
Kemendag Bidik Peluang Pasar Amerika Serikat
Selain melalui business matching, Kemendag memanfaatkan berbagai perjanjian dagang untuk memperluas akses pasar bagi produk Indonesia, termasuk ke Amerika Serikat.
Budi menyebut neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencatat surplus sebesar 18,11 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut pada tahun sebelumnya mencapai 30,9 miliar dolar AS.
"Kenapa dengan Amerika? Kita itu dengan Amerika surplus 18,11 miliar dolar AS, dan ekspor kita tahun lalu itu mencapai 30,9 miliar dolar AS. Jadi kalau kita berdagang ke Amerika Serikat itu menguntungkan kita, karena selalu surplus," kata Budi.
Budi juga menjelaskan upaya Indonesia membangun perjanjian dagang dengan Amerika Serikat telah dimulai sejak 1996 atau sekitar 30 tahun lalu.
Menurut dia, upaya tersebut baru membuahkan hasil setelah Presiden Prabowo menunjukkan komitmen untuk melakukan perjanjian kerja sama.
"Tetapi baru berhasil kemarin ketika Bapak Presiden Prabowo punya komitmen untuk melakukan perjanjian kerja sama," ujar Budi.
Secara keseluruhan, fasilitasi Kemendag mencakup pelatihan, standardisasi produk, pertemuan daring dengan calon pembeli, bantuan penerjemahan, hingga pemanfaatan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara untuk membuka peluang ekspor bagi UMKM.
- Penulis :
- Leon Weldrick




