
Pantau - Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyoroti masih tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia setelah BPJS Ketenagakerjaan mencatat hampir 319.224 klaim sepanjang 2025 dengan 9.834 kasus berakhir dengan kematian.
Afriansyah menyampaikan kondisi tersebut saat memberikan sambutan pada HUT ke-33 Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (K3 FKM UI) di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
“Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2025, tercatat hampir 319.224 klaim kecelakaan kerja di Indonesia, dengan 9.834 kasus berakhir dengan kematian,” papar Afriansyah.
Wamenaker menilai data tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan budaya keselamatan dan kesehatan kerja dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta profesi K3.
Afriansyah juga mengungkapkan terdapat 158 laporan penyakit akibat kerja yang diperkirakan menyerupai fenomena gunung es karena masih rendahnya tingkat identifikasi dan pelaporan.
Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) juga masih menghadapi tantangan karena dari sekitar 450.000 perusahaan yang menjadi sasaran, baru sekitar 18.000 perusahaan melaksanakannya melalui audit eksternal.
Perubahan dunia kerja turut memunculkan risiko baru mulai dari masalah ergonomi akibat digitalisasi, kesehatan mental akibat tekanan sosial, keselamatan sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kompleksitas kerja jarak jauh atau remote work, hingga perubahan iklim ekstrem.
Pemerintah bersama DPR RI saat ini menyusun Rancangan Undang-Undang Perlindungan Ketenagakerjaan untuk memodernisasi sejumlah aturan lama agar sesuai dengan perkembangan risiko dunia kerja.
"Regulasi tersebut akan mencakup pembaruan terhadap aturan ketenagakerjaan yang telah lama berlaku, termasuk UU peninggalan Belanda Tahun 1930 dan UU No. 1 Tahun 1970," katanya.
Kementerian Ketenagakerjaan berharap FKM UI dapat menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy untuk menjawab perubahan risiko keselamatan dan kesehatan kerja.
Dekan FKM UI Prof. Dr. Indri Hapsari Susilowati menegaskan keunggulan akademik bidang K3 tidak boleh berhenti di ruang kelas maupun publikasi ilmiah tetapi harus memberikan kontribusi nyata.
“Ilmu K3 harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata untuk menjawab tantangan di lapangan. Tiga dekade lebih merupakan perjalanan matang dalam membangun fondasi keilmuan dan mencetak talenta unggul di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.
Dalam rangkaian HUT ke-33 tersebut, Ketua Departemen K3 FKM UI Baiduri Widanarko juga meresmikan buku Dasar K3 (Basic OHS) yang membahas prinsip K3, pengenalan bahaya dan risiko, higiene industri, ergonomi, serta faktor manusia dan organisasi.
“Ini adalah ikhtiar nyata dari kami untuk memperluas cakrawala keilmuan K3 agar bisa diterapkan oleh mahasiswa, akademisi, hingga profesional,” ungkap Baiduri.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




