HOME  ⁄  Ekonomi

APUKN Mendorong Pemantauan Kemarau untuk Menjaga Operasional Industri Kokas Nasional

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

APUKN Mendorong Pemantauan Kemarau untuk Menjaga Operasional Industri Kokas Nasional
Foto: (Sumber :Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) Elias Ginting. ANTARA/HO-APUKN.)

Pantau - Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) mendorong pemerintah, pengelola kawasan industri, dan pemangku kepentingan meningkatkan pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau untuk menjaga operasional industri kokas dan kelancaran pasokan bahan baku nasional.

Ketua APUKN Elias Ginting mengatakan musim kemarau mulai menimbulkan tantangan berupa keterbatasan pasokan air di kawasan industri serta penurunan muka air sungai yang memengaruhi distribusi batu bara kokas atau coking coal dari Kalimantan.

Pasokan Air Industri Turun hingga 50 Persen

Sejumlah perusahaan penyewa atau tenant, termasuk industri kokas di kawasan Morowali, mulai menyesuaikan kegiatan operasional akibat keterbatasan pasokan air yang dalam kondisi tertentu dilaporkan hanya sekitar 50 persen dari tingkat normal.

"Air merupakan salah satu utilitas penting bagi industri kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi dan berbagai proses penunjang. Industri saat ini terus melakukan efisiensi dan optimalisasi penggunaan air agar produksi tetap berjalan," kata Elias.

APUKN mencatat sekitar 20 persen kebutuhan coking coal industri kokas berasal dari sumber domestik yang digunakan sebagai bagian dari campuran atau blending bahan baku.

Sebagian pasokan domestik tersebut berasal dari Kalimantan dan distribusinya bergantung pada transportasi sungai.

Berdasarkan pengolahan data Balai Wilayah Sungai Kalimantan III oleh APUKN, rata-rata tinggi muka air di Muara Teweh turun dari sekitar 21,02 meter pada Juli menjadi 20,39 meter pada Agustus 2026.

Muka air di Muara Teweh bahkan sempat berada di kisaran 19 meter pada 12 Agustus 2026, sementara penurunan juga terpantau di Marabahan dan Gampa.

Penurunan Muka Air Tekan Distribusi Bahan Baku

Elias menjelaskan penurunan muka air sungai dapat membuat tongkang tidak mampu mengangkut muatan pada kapasitas normal.

Operator dalam kondisi tertentu harus mengurangi muatan atau menyesuaikan jadwal pelayaran untuk menjaga keselamatan.

"Sekitar 20 persen bahan baku coking coal kami berasal dari dalam negeri. Ketika muka air sungai turun, kapasitas pengangkutan ikut terpengaruh. Jika kemarau panjang masih akan berlanjut maka produksi kokas akan tertekan dan akan berdampak cukup signifikan terhadap volume ekspor produk ini serta meningkatkan beban biaya logistik," ujarnya.

APUKN menyatakan kegiatan produksi industri kokas secara umum masih berjalan dengan sejumlah langkah mitigasi berupa efisiensi penggunaan air, pengaturan muatan dan jadwal tongkang, serta pengelolaan persediaan bahan baku.

Asosiasi tersebut berharap pemerintah, pengelola kawasan industri, Balai Wilayah Sungai, pemasok batu bara, dan pelaku logistik meningkatkan koordinasi serta pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau.

Koordinasi dinilai diperlukan untuk menjaga pasokan coking coal domestik bagi industri kokas serta rantai industri hilir seperti feronikel, besi dan baja, serta baja nirkarat atau stainless steel.

"Yang perlu kita jaga adalah agar tekanan akibat kemarau ini tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap rantai pasok dan program hilirisasi industri nasional," kata Elias.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026