HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Dorong Reformasi Pro-Pertumbuhan di G20 untuk Memacu Investasi dan Produktivitas

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Dorong Reformasi Pro-Pertumbuhan di G20 untuk Memacu Investasi dan Produktivitas
Foto: Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung yang mewakili Menteri Keuangan dalam memimpin delegasi Kementerian Keuangan dalam Pertemuan Kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/FMCBG) di bawah Presidensi Amerika Serikat (AS) di Asheville, North Carolina (sumber: Kementerian Keuangan)

Pantau - Indonesia menegaskan pentingnya strategi reformasi pro-pertumbuhan yang mampu mengurangi hambatan usaha dan investasi dalam Pertemuan Kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di bawah Presidensi Amerika Serikat.

Posisi Indonesia tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung yang mewakili Menteri Keuangan sekaligus memimpin delegasi Kementerian Keuangan dalam pertemuan tersebut.

Indonesia berpandangan reformasi pro-pertumbuhan perlu diarahkan pada penyederhanaan hambatan kegiatan usaha dan investasi, penguatan kerja sama internasional, serta pengembangan inovasi dan teknologi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Reformasi pro-pertumbuhan perlu diarahkan untuk mengurangi hambatan terhadap kegiatan usaha dan investasi, memperkuat kerja sama internasional, serta mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru,” ungkap Juda.

Indonesia Soroti Tiga Bidang Reformasi

Juda menyoroti tiga bidang utama yang perlu menjadi perhatian bersama dalam menjalankan strategi reformasi pro-pertumbuhan.

Bidang pertama adalah pelaksanaan reformasi struktural yang dibarengi dengan penyederhanaan regulasi untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Bidang kedua mencakup penguatan kerja sama internasional untuk menopang pertumbuhan ekonomi, sedangkan bidang ketiga adalah penguatan inovasi serta pemanfaatan teknologi sebagai pendorong pertumbuhan dan produktivitas.

Dalam forum G20 tersebut, Juda turut membagikan pengalaman Indonesia melakukan penyederhanaan regulasi guna menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif bagi aktivitas dunia usaha dan investasi.

Indonesia juga memperkuat sektor keuangan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Selain reformasi regulasi dan sektor keuangan, pemerintah terus mendorong transformasi struktural perekonomian melalui sejumlah strategi, termasuk hilirisasi sumber daya alam.

Hilirisasi diarahkan untuk mengembangkan industri yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi bagi perekonomian nasional.

Reformasi juga dilakukan pada sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui penguatan tata kelola serta penataan dan perampingan kelembagaan.

Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan kinerja perusahaan milik negara sehingga BUMN dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

AI dan Teknologi Baru Jadi Akselerator Pertumbuhan

Indonesia memandang pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan berbagai teknologi baru dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan produktivitas.

Pemanfaatan teknologi tersebut membutuhkan dukungan berupa penguatan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan ekosistem digital yang memadai.

Dukungan tersebut diperlukan agar adopsi dan pengembangan teknologi baru dapat memberikan hasil optimal bagi perekonomian.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi, G20 juga membahas peran sektor swasta dalam mendorong investasi.

Sektor swasta dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan investasi, memperkuat inovasi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan produktivitas.

G20 Libatkan Langsung Pelaku Usaha

Dalam pertemuan kali ini, G20 untuk pertama kalinya menghadirkan dialog langsung dengan pelaku usaha dari sektor kesehatan, manufaktur, dan jasa keuangan.

Dialog tersebut memberikan kesempatan kepada dunia usaha untuk menyampaikan perspektif mengenai berbagai faktor yang dapat mendukung maupun menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Masukan sektor swasta juga memperkaya pembahasan G20 mengenai berbagai tantangan dalam pemanfaatan AI dan teknologi baru.

Juda menilai keterlibatan sektor swasta penting untuk memastikan agenda reformasi dan pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan investasi dan produktivitas secara nyata.

Reformasi pro-pertumbuhan juga diharapkan mampu memperluas penciptaan lapangan pekerjaan.

Kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam agenda reformasi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat pertumbuhan ekonomi, dan mendorong kesejahteraan masyarakat.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026