
Pantau - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat distribusi minyak goreng MinyaKita setelah harganya ditemukan mencapai Rp21.000 hingga Rp22.000 per liter di sejumlah wilayah, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan kelancaran distribusi menjadi salah satu aspek yang terus didorong pemerintah untuk mengatasi harga MinyaKita yang masih melampaui HET.
"Kita akan dorong terus eh distribusinya. Karena kendalanya kan di situ juga kadang-kadang distribusinya belum lancar. Nanti kita akan pantau terus, khususnya di wilayah-wilayah yang masih di atas HET, termasuk Indonesia Timur," ungkap Dyah.
Pernyataan tersebut disampaikan Dyah di sela kunjungannya ke Pabrik Sepatu Fortuna Bandung pada Senin.
Kemendag Pantau Harga dan Distribusi MinyaKita
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 Tahun 2024, pemerintah menetapkan HET MinyaKita sebesar Rp15.700 per liter.
Dyah menjelaskan MinyaKita menjadi salah satu komoditas yang terus dipantau Kemendag untuk memastikan ketersediaan sekaligus perkembangan harganya di masyarakat.
Dalam kunjungannya ke Solo sebelumnya, Dyah menemukan harga MinyaKita di lokasi yang dikunjunginya masih berada di kisaran HET, yakni Rp15.700 per liter.
"Kemarin saya sempat ke Solo, Alhamdulillah di tempat yang saya kunjungi masih kisaran Rp15.700. Nah untuk daerah-daerah lainnya yang ternyata terbukti di atas HET kami pantau dan pastikan distribusinya," ungkap Dyah.
Kemendag akan melakukan pemantauan lebih lanjut dan memastikan kelancaran distribusi di daerah-daerah yang terbukti menjual MinyaKita di atas HET.
Kawasan Indonesia Timur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemantauan distribusi dan harga tersebut.
Harga Telur Naik, Kemendag Gandeng Bapanas
Selain MinyaKita, Kemendag memberikan perhatian terhadap distribusi telur ayam setelah harganya mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga pertengahan September 2026, rata-rata harga eceran telur di pasar tradisional Bandung berada pada kisaran Rp28.500 hingga Rp30.300 per kilogram.
Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata harga telur pada Agustus 2026 yang berada di kisaran Rp25.000 per kilogram.
Kemendag berkolaborasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk turun langsung ke lapangan memantau distribusi berbagai komoditas dan mencatat daerah yang mengalami gangguan.
"Kita selalu memonitor. Selain itu kami berkolaborasi bersama Bapanas turun bareng ke lapangan untuk memantau distribusi. Kami catat daerah-daerah mana yang terganggu, dan kita segera tindaklanjuti," ungkap Dyah.
Daerah yang ditemukan mengalami gangguan distribusi akan segera ditindaklanjuti pemerintah sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan dan harga komoditas.
Kemendag Belum Rencanakan Operasi Pasar
Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, Kemendag belum berencana menggelar operasi pasar pada tahun ini.
Pemerintah memilih melanjutkan pemantauan harga serta memperkuat distribusi untuk menyikapi kondisi di sejumlah daerah.
"Tahun ini kita belum ada rencana untuk operasi pasar," ungkap Dyah.
- Penulis :
- Leon Weldrick




