
Pantau - Menteri Keuangan Suahasil Nazara melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 31 Agustus 2026.
Suahasil menyampaikan realisasi tersebut dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
“Hingga akhir Agustus, kinerja APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer yang positif, defisit dalam batasan yang terkendali. Ini artinya, memang perjalanan APBN relatif on-track,” kata Suahasil.
Pendapatan Negara Tembus Rp2.055,6 Triliun
Pendapatan negara hingga Agustus 2026 tercatat Rp2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.
Realisasi pendapatan tersebut tumbuh 25,4 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.639 triliun.
Penerimaan perpajakan mencapai Rp1.619,3 triliun atau 60,1 persen dari target APBN dan tumbuh 21,7 persen secara tahunan.
Penerimaan tersebut terdiri atas pajak sebesar Rp1.409 triliun atau 59,8 persen dari target dengan pertumbuhan 24,1 persen serta kepabeanan dan cukai Rp210,2 triliun atau 62,6 persen dari target dengan pertumbuhan 7,8 persen.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp435,1 triliun atau 94,8 persen dari target APBN dan tumbuh 41,7 persen secara tahunan.
Belanja Negara Capai Rp2.295,7 Triliun
Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari pagu Rp3.842,7 triliun.
Realisasi tersebut tumbuh 17,1 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.960,3 triliun.
Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.791,5 triliun atau 56,9 persen dari pagu dengan pertumbuhan 29 persen secara tahunan.
Belanja kementerian dan lembaga terealisasi Rp912,4 triliun atau 60,4 persen dari pagu, sedangkan belanja non-kementerian dan lembaga mencapai Rp879,1 triliun atau 53,6 persen dari pagu.
Realisasi transfer ke daerah tercatat Rp504,3 triliun atau 72,8 persen dari pagu dan mengalami kontraksi 11,8 persen secara tahunan.
Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, keseimbangan primer APBN hingga Agustus 2026 mencatat surplus Rp154 triliun.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




