
Pantau - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil tangkapan nelayan agar dapat masuk ke rantai industri global.
Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha Donny Oktapura mengatakan program tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas nelayan, tetapi juga memastikan hasil tangkapan memenuhi standar pangan global.
“Salah satu tujuan dari pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih itu yang pertama tentunya adalah kita ingin meningkatkan produktivitas nelayan. Yang kedua adalah kita ingin agar produk-produk hasil tangkapan nelayan itu bisa memiliki mutu yang tinggi,” kata Andy.
Pernyataan tersebut disampaikan Andy setelah mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI di Kantor Badan Mutu KKP Bali, Kabupaten Badung, Bali, Jumat.
Sistem Rantai Dingin Jaga Mutu Ikan
Menurut Andy, peningkatan mutu hasil tangkapan nelayan didukung melalui pembangunan sistem rantai dingin di Kampung Nelayan Merah Putih.
Sistem tersebut dilengkapi fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage serta penyediaan es untuk membantu mempertahankan kualitas hasil tangkapan.
Penguatan fasilitas pascapanen juga dilakukan agar mutu ikan dapat dipertahankan sekaligus memenuhi aspek keamanan pangan.
“Karena di situ nanti akan terbangun sistem rantai dingin, ada cold storage, ada es. Dan selain itu nanti pascapanennya juga akan lebih baik lagi sehingga mutu ikannya betul-betul baik, memenuhi standar pangan global, dan juga keamanan pangan,” ujarnya.
Andy mengatakan KKP telah membangun hampir 100 Kampung Nelayan pada 2025.
Selain kampung yang telah selesai dibangun tersebut, pembangunan sekitar 1.269 Kampung Nelayan lainnya sedang berlangsung dan ditargetkan selesai pada akhir 2026.
“Ya, kalau sampai dengan saat ini, kita saat ini sudah membangun kurang lebih hampir 100, ya, 100 Kampung Nelayan di tahun 2025. Dan saat ini sedang berjalan kurang lebih 1.269 kampung yang diharapkan selesai di akhir tahun ini,” katanya.
Produk Nelayan Mulai Masuk Rantai Industri Global
Menurut Andy, sejumlah Kampung Nelayan yang telah selesai dibangun mulai menunjukkan perkembangan dari sisi kegiatan ekonomi dan akses pasar.
Di beberapa lokasi, transaksi produk perikanan telah berlangsung dan sejumlah produk disebut telah memenuhi persyaratan untuk masuk ke rantai industri global.
“Alhamdulillah dari yang 100 itu sudah beberapa lokasi itu sudah terjadi transaksi dan produk-produknya sudah memenuhi atau bisa masuk dalam rantai industri global. Ini tentunya hal yang positif,” ujarnya.
Salah satu contohnya terdapat di Kampung Nelayan Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang telah mampu mengirim hasil tangkapan nelayan ke industri di luar wilayah tersebut.
Nilai transaksi dari pengiriman hasil tangkapan tersebut mencapai sekitar Rp2 miliar dalam kurun waktu enam bulan.
Andy menilai capaian tersebut menunjukkan terbukanya akses pasar yang lebih luas bagi nelayan yang sebelumnya lebih banyak memasarkan hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan lokal.
Penguatan mutu produk dan sistem rantai dingin membuat hasil tangkapan nelayan memiliki akses untuk dipasarkan melalui rantai industri yang lebih luas.
“Itu hal yang sangat positif. Dari yang semula mereka hanya bisa masuk di produk lokal atau pasar lokal, sudah bisa ke rantai industri,” ujarnya.
- Penulis :
- Leon Weldrick




