HOME  ⁄  Ekonomi

Arief Poyuono Usulkan Platform ADHARA untuk Integrasikan Rantai Pasok dan Tekan Biaya Logistik

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Arief Poyuono Usulkan Platform ADHARA untuk Integrasikan Rantai Pasok dan Tekan Biaya Logistik
Foto: (Sumber :llustrasi - Suasana bongkar muat logistik di salah satu pelabuhan. ANTARA/HO-Pelindo.)

Pantau - Komisaris PT Pelindo (Persero) Arief Poyuono mengusulkan pengembangan platform ADHARA untuk mengintegrasikan pelaku usaha, penyedia logistik, lembaga pembiayaan, dan pembeli internasional dalam satu ekosistem digital guna meningkatkan efisiensi rantai pasok Indonesia.

Platform tersebut dirancang untuk memberikan kepastian transaksi, mempercepat pembiayaan perdagangan, serta meningkatkan transparansi dan efisiensi proses ekspor.

"Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem logistik yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang efisien, modern, dan terintegrasi," ujar Arief dalam keterangan di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Arief menyebut biaya logistik Indonesia saat ini berada pada kisaran 23-24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara negara-negara industri disebut berada pada kisaran 8-12 persen.

ADHARA Integrasikan Rantai Pasok

Arief menilai persoalan logistik Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pelabuhan maupun jalan, tetapi juga integrasi berbagai proses dalam rantai pasok.

"Persoalan logistik Indonesia bukan semata-mata kurangnya pelabuhan atau jalan. Tantangan terbesar justru berada pada integrasi rantai pasok, kepastian waktu pengiriman, digitalisasi proses bisnis, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan," kata Arief.

Menurut Arief, keterlambatan pengiriman dalam sistem perdagangan global dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang besar karena industri modern banyak menerapkan sistem just-in-time production.

Ia mengusulkan reformasi logistik diarahkan pada pembangunan ekosistem digital yang menghubungkan produksi, distribusi, inventori, pembiayaan hingga perdagangan internasional.

Langkah tersebut mencakup digitalisasi proses kepabeanan, pertukaran data logistik nasional, pengaturan distribusi berbasis waktu, serta pengembangan pusat logistik modern.

Tiga Agenda Reformasi Logistik

Selain digitalisasi, Arief mengusulkan peningkatan konektivitas melalui angkutan massal berbasis kereta api dan transportasi laut.

Agenda berikutnya adalah membangun kawasan ekonomi yang terhubung dengan jalur perdagangan internasional serta memperkuat investasi pada riset dan teknologi sebagai fondasi transformasi industri nasional.

Arief menilai model rantai pasok terintegrasi dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pada sektor pertanian, manufaktur, dan komoditas ekspor.

Ia meyakini reformasi supply chain dapat memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan efisiensi biaya logistik, memperbesar nilai tambah di dalam negeri, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026