HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Menguat 1,56 Persen Setelah BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Menguat 1,56 Persen Setelah BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu sore ditutup menguat 97,87 poin atau 1,56 persen ke level 6.374,91 setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 7,57 poin atau 1,21 persen ke posisi 633,18.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menilai penguatan signifikan IHSG terutama didorong hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

"Menurut saya, penguatan signifikan IHSG pada sesi II terutama didorong oleh hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen," ungkap Nafan.

Menurut Nafan, keputusan mempertahankan BI Rate memberikan kepastian kepada pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter Indonesia di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan yield global.

Saham Perbankan Besar Jadi Katalis IHSG

Setelah keputusan BI diumumkan, saham-saham perbankan besar memberikan respons positif dan menjadi salah satu katalis utama penguatan IHSG.

"Setelah keputusan BI diumumkan, saham-saham perbankan besar langsung merespons positif sehingga menjadi salah satu katalis utama penguatan IHSG," kata Nafan.

Stabilitas suku bunga dinilai memberikan visibilitas lebih baik terhadap biaya dana perbankan, kualitas aset, serta prospek margin bunga bersih bank.

Besarnya bobot kapitalisasi bank-bank besar dalam IHSG membuat kenaikan saham sektor tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks.

"Dengan bobot kapitalisasi yang besar, penguatan big banks tersebut memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap kenaikan IHSG," ungkap Nafan.

Selain kebijakan BI, sentimen positif dari bursa global dan rebound saham berbasis komoditas turut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG mengalami koreksi cukup dalam sebesar 1,69 persen pada perdagangan sehari sebelumnya.

"Dari sisi sektoral, penguatan IHSG ditopang oleh kombinasi sektor keuangan, barang baku, energi, serta konsumer siklikal," kata Nafan.

Sebelum keputusan BI diumumkan, sektor barang baku telah menjadi salah satu motor penguatan IHSG bersama saham-saham berbasis komoditas yang mencatatkan kenaikan signifikan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor ditutup menguat dengan sektor barang baku mencatat kenaikan terbesar sebesar 3,44 persen.

Sektor energi menguat 2,63 persen dan sektor barang konsumen nonprimer naik 2,56 persen.

Sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan sebesar 0,54 persen.

IHSG Berpeluang Lanjutkan Technical Rebound

Untuk sisa September 2026, Nafan menilai IHSG masih memiliki peluang melanjutkan technical rebound, meski volatilitas pasar tetap perlu diperhatikan.

Penguatan IHSG masih perlu dikonfirmasi melalui kemampuan indeks bertahan di atas area support dan kembali menguji area resistance terdekat.

Dari sisi fundamental, keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dinilai dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham dalam jangka pendek.

Namun, pasar masih menghadapi risiko eksternal berupa pergerakan yield US Treasury, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, fluktuasi rupiah, harga minyak, serta arus dana asing.

"Karena itu, untuk sisa bulan ini IHSG berpotensi bergerak dalam pola volatile sideways dengan kecenderungan rebound, selama tekanan jual asing tidak kembali meningkat secara signifikan dan level support teknikal mampu dipertahankan," ungkap Nafan.

IHSG dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham.

Laporan perdagangan menyebut IHSG berada di zona merah pada sesi kedua hingga penutupan, meskipun secara keseluruhan indeks tercatat berakhir menguat 1,56 persen.

Saham MPXL, FORU, UNSP, DEWI, dan PTSN tercatat sebagai saham dengan kenaikan harga terbesar, sedangkan AGAR, DFAM, BPTR, KPIG, dan SNLK mengalami pelemahan harga terbesar.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,90 juta kali transaksi dengan volume mencapai 34,65 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp12,87 triliun.

Sebanyak 464 saham mengalami kenaikan harga, 200 saham melemah, dan 299 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Di bursa regional Asia, indeks Shanghai melemah 0,39 persen ke level 3.936,52 dan Hang Seng turun 1,01 persen ke level 24.834,12.

Indeks Kospi menguat 0,90 persen ke posisi 7.080,92, sedangkan indeks Kuala Lumpur melemah 0,42 persen ke level 1.676,43 dan Straits Times turun 0,24 persen ke posisi 5.709,91.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026