
Pantau - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat ekspor ikan kerapu hidup asal Raja Ampat, Papua Barat Daya, ke Hong Kong mencapai 15.121 ekor dengan nilai lebih dari Rp2,38 miliar hingga triwulan III 2026.
Frekuensi pengiriman kerapu hidup ke Hong Kong pada periode tersebut mencapai lima kali, meningkat dibandingkan 2024 yang hanya mencatat satu kali pengiriman sebanyak 4.478 ekor senilai Rp1,28 miliar.
Kepala Karantina Papua Barat Daya I Wayan Kertanegara mengatakan setiap pengiriman kerapu hidup ke luar negeri harus melalui pemeriksaan untuk memastikan kesehatan ikan dan pemenuhan seluruh persyaratan negara tujuan.
Kerapu Diperiksa Sebelum Dikirim ke Hong Kong
Barantin memastikan setiap kerapu yang akan diekspor bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina sebelum diberangkatkan menuju Hong Kong.
Proses pemeriksaan dimulai dengan verifikasi dokumen pengiriman, dilanjutkan pemeriksaan fisik dan klinis terhadap ikan.
Petugas juga melakukan pengujian laboratorium untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan virus, bakteri, dan parasit berbahaya.
“Kami memastikan ikan kerapu bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina, mulai dari verifikasi dokumen, pemeriksaan fisik dan klinis, hingga pengujian laboratorium terhadap virus, bakteri, dan parasit berbahaya,” ungkap Wayan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Webseries Go Ekspor Barantin episode ke-11 yang digelar secara hibrida dari Sorong.
Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, Barantin menerbitkan sertifikat kesehatan ikan sebagai salah satu persyaratan agar komoditas dapat diterima di negara tujuan.
Wayan menyebut karakteristik lingkungan perairan Raja Ampat turut memengaruhi kualitas ikan kerapu yang dihasilkan.
“Arus laut yang kuat dan bersih serta ekosistem terumbu karang yang produktif membuat kerapu Raja Ampat punya tekstur daging yang padat dan cita rasa gurih yang khas, itu yang membuat pasar Hong Kong menyukainya,” kata Wayan.
Selain melakukan pemeriksaan karantina, Barantin memberikan pembinaan kepada pelaku usaha perikanan melalui penerapan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB).
Barantin juga memperkuat sistem ketertelusuran komoditas mulai dari lokasi produksi hingga titik ekspor.
Ekspor Diharapkan Berdampak ke Nelayan Papua
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (PPSDM Karantina) Wisnu Wasisa Putra mengatakan terbukanya pasar ekspor menunjukkan kekayaan laut Papua memiliki peluang menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Barantin berupaya memastikan petugas karantina memiliki kompetensi yang memadai sekaligus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha kerapu di Raja Ampat.
“Kami ingin memastikan setiap petugas karantina memiliki kompetensi yang mumpuni, dan setiap pelaku usaha kerapu di Raja Ampat mendapat pendampingan yang memadai, karena pada akhirnya keberhasilan ekspor ini harus dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat pesisir Papua,” ungkap Wisnu.
Salah satu perusahaan yang terlibat dalam ekspor tersebut adalah PT Jaya Samudera Siantan yang sepanjang 2026 telah mengirim 14.755 ekor kerapu hidup ke Hong Kong.
Kerapu tersebut berasal dari fasilitas keramba jaring apung di Pulau Bianci, Kabupaten Raja Ampat.
Berdasarkan Laporan Market Intelligence Konsulat Jenderal RI Hong Kong 2024 yang dikutip Barantin, nilai pasar ikan dan makanan laut di Hong Kong diperkirakan mencapai 5,51 miliar dolar AS pada 2024.
Pasar ikan dan makanan laut di Hong Kong juga diperkirakan tumbuh rata-rata 4,02 persen per tahun hingga 2029.
Komoditas Papua Barat Daya Jangkau Berbagai Negara
Selain kerapu hidup, Papua Barat Daya mengekspor berbagai komoditas ikan segar dan beku, antara lain udang, tenggiri, kerang dara, dan kakap.
Sepanjang Januari hingga September 2026, komoditas perikanan dari Papua Barat Daya telah menjangkau sejumlah pasar internasional.
“Sepanjang Januari-September 2026, komoditas perikanan dari Papua Barat Daya tersebut telah menjangkau pasar Jepang, Arab Saudi, Singapura, Taiwan, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Amerika Serikat,” kata Wisnu.
Pelayanan karantina di Papua Barat Daya dilakukan melalui lima titik, yakni Bandara Domine Eduard Osok, Pelabuhan Laut Sorong, Pelabuhan Rakyat Kota Sorong, Kantor Pos, dan Pelabuhan Arar.
- Penulis :
- Shila Glorya




