HOME  ⁄  Ekonomi

Disperinaker Surabaya Dorong 30 Pelaku IKM Tembus Pasar Internasional Lewat Coaching Clinic Export

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Disperinaker Surabaya Dorong 30 Pelaku IKM Tembus Pasar Internasional Lewat Coaching Clinic Export
Foto: Pelaku IKM di Kota Surabaya mengikuti Coaching Clinic Export yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Kota Surabaya (sumber: Pemkot Surabaya)

Pantau - Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Kota Surabaya mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) menembus pasar internasional melalui program Coaching Clinic Export.

Program bimbingan ekspor tersebut diikuti 30 pelaku IKM dengan pendampingan mulai dari kurasi produk, pemenuhan persyaratan ekspor, strategi penawaran, hingga penentuan harga.

Kepala Disperinaker Kota Surabaya Agus Hebi Djuniantoro mengatakan program tersebut diselenggarakan untuk mempersiapkan pelaku usaha yang ingin mengekspor produknya.

“Pemkot bekerja sama dengan Export Center Surabaya (ECS) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada kegiatan ini,” kata Hebi.

Produk IKM Dikurasi Sebelum Masuk Pasar Ekspor

Salah satu bentuk pendampingan dalam program tersebut adalah kurasi untuk mengetahui penyesuaian teknis yang diperlukan terhadap produk sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Penyesuaian itu mencakup bentuk dan kualitas kemasan, tampilan produk, hingga sertifikasi yang diperlukan untuk memenuhi ketentuan ekspor.

“Produk-produk mereka itu nantinya dikurasi. Nah, kurasi tersebut memerlukan ubahan teknik, misal kemasannya itu bagaimana kalau ekspor, kemudian tampilan produknya, hingga sertifikasinya harus bagaimana,” ungkap Hebi.

Pendampingan juga diarahkan untuk membantu pelaku IKM memenuhi prosedur dan persyaratan kelayakan ekspor sekaligus memahami cara menawarkan produk secara cepat dan menarik kepada calon pembeli.

Export Center Surabaya berperan dalam proses kurasi sekaligus membuka peluang melalui jaringan pembeli dari luar negeri yang dimilikinya.

Sementara itu, ITS memberikan pendampingan terkait cara menawarkan barang serta meningkatkan daya tarik produk.

“Nah, ini kita bantu, kita dorong industri kecil menengah untuk memenuhi syarat-syarat ekspor. Yang mengkurasi nanti ya Export Center tadi, dia kan punya buyer-buyer (pembeli) dari luar negeri. Nanti oleh ITS diajarkan bagaimana menawarkan barang secara cepat dan membuat produk itu menarik,” kata Hebi.

Program Coaching Clinic Export direncanakan berlangsung secara berkelanjutan dengan bentuk pendampingan yang disesuaikan dengan klasifikasi dan tingkat perkembangan setiap IKM.

Pelaku IKM yang baru merintis usaha maupun yang telah berpengalaman atau berada pada tingkat lebih maju akan mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing.

“Untuk industri kecil menengah yang baru mulai, dan sudah kawakan atau advance, bagaimana cara kita memberikan coaching clinic nya, perbaikan-perbaikan baik itu produk dan cara ekspornya,” ujar Hebi.

ITS Terjunkan Ratusan Mahasiswa Dampingi Pelaku IKM

Pelaku IKM dalam kegiatan tersebut berasal dari sejumlah bidang industri, antara lain makanan, fesyen, dan dekorasi rumah.

Pendampingan dilakukan agar produk mereka dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik pasar luar negeri.

Selain perbaikan produk, peserta dibimbing mengenai tata cara menawarkan barang kepada calon pembeli dan menentukan harga yang kompetitif.

Apabila harga produk dinilai terlalu mahal untuk bersaing di pasar tujuan, ITS akan memberikan pendampingan mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk menekan harga.

“Supaya tahu tata caranya bagaimana menawarkan produk, terus penawaran-penawaran itu nanti harganya berapa. Misal kalau harganya terlalu mahal itu juga akan diberikan coaching clinic oleh ITS caranya agar tidak terlalu mahal harganya,” kata Hebi.

Guru Besar Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) ITS Prof. Maria Anityasari mengatakan ITS menerjunkan ratusan mahasiswa untuk mendampingi pelaku usaha secara langsung.

Mahasiswa tersebut ditempatkan berdasarkan kelompok industri peserta, mulai dari pangan, fesyen, hingga dekorasi rumah, sehingga pendampingan dapat difokuskan pada persoalan yang dihadapi masing-masing IKM.

“Para mahasiswa diterjunkan sesuai dengan kelompok industri peserta, seperti pangan, fashion, atau home decor. Pendampingan yang spesifik ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret bagi setiap tantangan yang dihadapi IKM,” ungkap Maria.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026