
Pantau - Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mengalihwahanakan sembilan kelompok naskah kuno Nusantara menjadi 50 karya dalam bentuk buku anak dan komik agar warisan dokumenter lebih dekat serta mudah diakses generasi muda.
Sebanyak 50 karya tersebut terdiri atas 38 buku anak bergambar, dua buku berbab, dan 10 komik.
Program itu diluncurkan dalam kegiatan Gelar Wicara Alih Wahana Naskah Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MoW) di Jakarta, Rabu.
Sembilan kelompok naskah kuno yang menjadi sumber adaptasi meliputi Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang.
Khusus naskah Syekh Yusuf, Perpusnas mengembangkannya menjadi delapan judul.
Perpusnas Gandeng ITB untuk Dekatkan Warisan Dokumenter
Program alih wahana tersebut merupakan hasil kolaborasi Perpusnas dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Program Studi Desain Komunikasi Visual, serta mendapat dukungan melalui JIKJI Prize UNESCO 2024.
Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta Maki Katsuno-Hayashikawa mengatakan transformasi naskah kuno menjadi buku anak dan komik membuat warisan dokumenter lebih mudah dijangkau generasi muda.
“Perpusnas melanjutkan warisan tersebut dengan mentransformasikan catatan menjadi format yang lebih mudah diakses oleh generasi muda,” ungkap Maki.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya mendekatkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal dalam naskah kuno kepada generasi masa kini.
Penerbitan buku anak dan komik secara khusus ditujukan agar anak-anak Indonesia semakin mengenal identitas dan sejarah bangsanya sendiri.
“Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di Tanah Air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri,” kata Aminudin.
Aminudin menegaskan proses alih wahana tidak mengurangi nilai maupun keaslian naskah kuno yang menjadi sumber adaptasi.
Alih wahana menjadi langkah lanjutan setelah naskah kuno melewati tahapan identifikasi, pendaftaran, pelestarian, dan digitalisasi.
Transformasi tersebut dilakukan agar pengetahuan yang tersimpan dalam naskah kuno dapat dibaca dan dipahami oleh lebih banyak orang.
Buku Anak dan Komik Jadi Jembatan Antargenerasi
Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW Riama Maslan Sihombing mengatakan naskah kuno menyimpan rekaman kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Rekaman tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kekuasaan, agama, keluarga, alam, ilmu pengetahuan, etika, hingga kehidupan bersama dalam masyarakat.
Menurut Riama, proses alih wahana diperlukan karena bahasa dan aksara dalam naskah kuno tidak selalu mudah dipahami oleh anak-anak masa kini.
Konteks sosial yang melatarbelakangi naskah kuno juga dapat menjadi kendala bagi generasi muda untuk memahami kandungannya.
Karena itu, transformasi menjadi buku anak dan komik digunakan sebagai pendekatan untuk membuat isi serta nilai dalam naskah kuno lebih mudah dijangkau generasi sekarang.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi dan Naskah Nusantara Perpusnas Yeri Nurita mengatakan pendekatan kreatif melalui alih wahana dapat menjadi jembatan antargenerasi untuk memperkenalkan nilai-nilai dalam naskah kuno.
Program tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah dan budaya bangsa.
- Penulis :
- Leon Weldrick




