HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Melemah 1,20 Persen, Tekanan Bursa Asia dan Risiko Inflasi Global Membayangi Pasar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Melemah 1,20 Persen, Tekanan Bursa Asia dan Risiko Inflasi Global Membayangi Pasar
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 76,30 poin atau 1,20 persen ke posisi 6.298,61 pada perdagangan Kamis sore seiring tekanan yang melanda sejumlah bursa saham Asia.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut turun 8,68 poin atau 0,92 persen ke posisi 623,26.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan IHSG bergerak sejalan dengan tekanan di pasar saham regional.

"IHSG dan bursa regional Asia cenderung tertekan seiring tekanan koreksi yang terjadi di penutupan Wall Street Amerika Serikat (AS) dan bursa di Eropa,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Pasar

Dari pasar global, Nico menjelaskan koreksi bursa antara lain dipicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Ketegangan di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mengambil kebijakan lebih agresif.

Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko inflasi yang terus berlanjut dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga kembali diperlukan.

Pernyataan tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sementara tingginya harga minyak mentah menambah risiko terhadap inflasi global.

Ketidakpastian geopolitik meningkat setelah Iran meragukan adanya kemajuan dalam pembicaraan perdamaian di Timur Tengah di tengah negosiasi antara AS dan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan pernah menyerah kepada AS, tetapi tetap terbuka terhadap dialog dan diplomasi dengan sejumlah syarat untuk kembali bernegosiasi.

Pelaku pasar juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, AS, di tengah ketidakpastian mengenai perpanjangan gencatan senjata perdagangan kedua negara.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan AS dan China telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata perdagangan selama dua bulan hingga 10 Januari 2026.

China disebut belum memberikan konfirmasi secara publik mengenai tanggal berakhirnya gencatan senjata tersebut, sementara durasi perpanjangannya lebih singkat dibandingkan periode tiga hingga enam bulan yang sebelumnya disarankan sejumlah pejabat AS.

Ekspektasi terhadap hasil pertemuan Trump dan Xi tetap moderat dengan sejumlah isu diperkirakan menjadi pembahasan, mulai dari kecerdasan buatan, Iran, Taiwan, hingga hubungan ekonomi yang lebih luas.

Kedua negara disebut berupaya menjaga stabilitas hubungan bilateral di tengah berbagai ketidakpastian.

Seluruh Sektor IHSG Berakhir di Zona Merah

Dari dalam negeri, pergerakan pasar masih dibayangi risiko global berupa lonjakan imbal hasil obligasi, fluktuasi harga minyak, dan ketegangan geopolitik.

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada September 2026, tetapi perekonomian domestik masih menghadapi ancaman kenaikan suku bunga global, ketidakpastian harga minyak, dan persoalan geopolitik.

“Di dalam negeri sendiri, situasi tidak kalah menantang karena laju pertumbuhan ekonomi melambat, belanja masyarakat lesu, dan rupiah terus dibayangi risiko melemah akibat penguatan mata uang dolar AS serta keluarnya dana investor asing,” ujar Nico.

IHSG dibuka melemah dan terus bergerak di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan.

Memasuki sesi kedua, IHSG tetap bertahan di zona merah hingga perdagangan saham berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami pelemahan dengan sektor barang baku mencatat penurunan terbesar sebesar 2,00 persen.

Sektor industri menyusul dengan pelemahan 1,93 persen, sedangkan sektor properti turun 1,62 persen.

Saham BIPP, UNSP, WAPO, FORU, dan ASLI tercatat sebagai saham dengan penguatan harga terbesar.

Sebaliknya, MSIN, SAFE, SDMU, NASI, dan MNCN menjadi saham yang mengalami pelemahan harga terbesar.

Frekuensi perdagangan sepanjang hari mencapai 1,62 juta transaksi dengan volume sebanyak 26,71 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp11,21 triliun.

Sebanyak 198 saham ditutup menguat, 487 saham melemah, dan 278 saham tidak mengalami perubahan nilai.

Bursa Asia Bergerak Bervariasi

Pergerakan bursa regional Asia pada sore hari bervariasi dengan sebagian besar indeks yang dicatat mengalami pelemahan.

Indeks Nikkei menguat 0,88 persen ke posisi 65.592,00, sedangkan indeks Shanghai melemah 1,22 persen ke posisi 3.888,37.

Indeks Hang Seng turun 0,29 persen ke posisi 24.761,13 dan indeks Kuala Lumpur melemah 0,25 persen ke posisi 1.672,31.

Indeks Straits Times turut ditutup melemah 0,43 persen ke posisi 5.685,15.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026