HOME  ⁄  Ekonomi

Disability Tech Buka Peluang Ekonomi Inklusif di Tengah Pesatnya Perkembangan AI

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Disability Tech Buka Peluang Ekonomi Inklusif di Tengah Pesatnya Perkembangan AI
Foto: (Sumber :Seorang penyandang tunadaksa berlatih berjalan menggunakan kaki palsu di Pusat Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Bali (PUSPADI Bali), Denpasar, Bali, Senin (12/1/2026).ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nz.)

Pantau - Teknologi untuk penyandang disabilitas atau disability technology (disability tech) dinilai memiliki peluang berkembang menjadi industri besar seiring meningkatnya kebutuhan teknologi bantu, kemajuan kecerdasan buatan (AI), serta bertambahnya populasi lanjut usia dunia.

Joko Rurianto dalam tulisannya menyebut sektor tersebut masih relatif luput dari perhatian investor Indonesia di tengah tingginya investasi pada AI, data center, dan fintech.

Menurut dia, disability tech tidak lagi terbatas pada teknologi bantu konvensional seperti kursi roda, tongkat, maupun alat bantu dengar.

Revolusi digital dan perkembangan AI telah memperluas inovasi teknologi yang dapat membantu penyandang disabilitas menjalani aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Kebutuhan Teknologi Bantu Terus Meningkat

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip dalam tulisan tersebut menunjukkan sekitar 1,3 miliar orang atau hampir 16 persen populasi dunia hidup dengan berbagai bentuk disabilitas signifikan.

WHO juga memperkirakan lebih dari 2,5 miliar orang membutuhkan teknologi bantu saat ini dan jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 3,5 miliar orang pada 2050.

Menurut Joko, pengguna disability tech tidak hanya mencakup penyandang disabilitas permanen, tetapi juga lansia, pasien rehabilitasi, korban kecelakaan, serta individu dengan keterbatasan fungsional sementara.

Kondisi tersebut menempatkan disability tech pada persimpangan antara sektor kesehatan, teknologi digital, dan perubahan demografi global.

Kemajuan AI turut mempercepat transformasi teknologi bantu dari perangkat yang sebelumnya lebih banyak bersifat mekanis menjadi solusi berbasis teknologi cerdas.

AI Dorong Munculnya Teknologi Bantu Cerdas

Berbagai inovasi telah berkembang, mulai dari smart prosthetic berbasis sensor yang membantu menghasilkan gerakan lebih natural hingga hearing aid yang menggunakan algoritma AI untuk menyaring kebisingan.

Teknologi smart glasses juga dikembangkan untuk membantu penyandang tunanetra mengenali objek dan lingkungan di sekitarnya.

Sementara itu, teknologi speech-to-text memungkinkan percakapan diubah menjadi teks secara waktu nyata dan exoskeleton digunakan untuk membantu rehabilitasi pasien dengan gangguan mobilitas.

Perkembangan lainnya mencakup brain-computer interface yang memungkinkan manusia mengendalikan perangkat melalui sinyal otak.

Menurut Joko, berbagai teknologi tersebut berpotensi memperluas akses penyandang disabilitas terhadap pendidikan, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi.

Disability Tech Dinilai Punya Pasar Luas

Joko mencontohkan Be My Eyes sebagai salah satu pemanfaatan AI untuk membantu penyandang tunanetra memahami lingkungan di sekitar mereka.

Melalui kamera ponsel, pengguna dapat memperoleh penjelasan mengenai objek, ruang, dokumen, maupun aktivitas yang berada di hadapannya.

Menurut tulisan tersebut, perkembangan disability tech juga didorong perubahan struktur demografi karena semakin banyak negara memasuki era aging society atau mengalami peningkatan proporsi penduduk lanjut usia.

Kondisi itu turut meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi yang membantu mobilitas, komunikasi, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari.

Joko menilai perkembangan tersebut menunjukkan disability tech tidak hanya berkaitan dengan aksesibilitas dan dampak sosial, tetapi juga memiliki potensi ekonomi di tengah perkembangan teknologi dan perubahan demografi dunia.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026