
Pantau - Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar Abdul Rahman Farisi menilai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia dan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat bersinergi dalam menjalankan agenda hilirisasi dan industrialisasi untuk menerjemahkan visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto.
“Hilirisasi di bawah koordinasi Menko Bahlil memiliki ruang yang sangat besar untuk mendorong nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki,” kata Abdul Rahman dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Hilirisasi dan Industrialisasi Dinilai Saling Berkaitan
Abdul Rahman berpandangan hilirisasi dapat memperluas pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi yang berbasis sumber daya mineral, pertanian, dan perikanan.
Menurut dia, kebijakan industri yang dijalankan Kementerian Perindustrian juga dapat diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Pak Menteri Sarmuji langsung tancap gas ingin menerjemahkan visi Presiden Prabowo dengan menempatkan industri sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ini sejalan dengan agenda hilirisasi yang berada di bawah koordinasi Menko Bahlil,” ujarnya.
Abdul Rahman mengatakan penguatan industri merupakan bagian dari transformasi struktur ekonomi menuju kegiatan yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
Proses tersebut, menurut dia, dapat ditandai dengan berkembangnya industri pengolahan, akumulasi modal, transfer teknologi, dan peningkatan produktivitas.
“Menurut saya, industri padat teknologi dan padat karya bisa dikembangkan secara simultan. Dengan begitu, peningkatan produktivitas dan nilai tambah dapat berjalan beriringan dengan perluasan lapangan kerja,” katanya menambahkan.
Substitusi Impor Disebut Bisa Melengkapi Hilirisasi
Abdul Rahman juga memandang pengembangan industri substitusi impor dapat menjadi salah satu kebijakan yang melengkapi agenda hilirisasi.
“Selain industri yang tumbuh dari hilirisasi, saya melihat industri substitusi impor juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan ketersediaan tenaga kerja yang dapat menjadi modal untuk memperkuat kapasitas produksi nasional,” ucapnya.
Menurut Abdul Rahman, hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, sedangkan substitusi impor diarahkan untuk memperkuat basis produksi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Ia menilai kolaborasi kebijakan tersebut dapat berkontribusi terhadap target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.
“Pak Bahlil dengan agenda hilirisasi dan Pak Sarmuji dengan penguatan industrinya berada pada mata rantai ekonomi yang saling berhubungan. Sinergi keduanya saya kira dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menerjemahkan visi Presiden: pertumbuhan yang lebih tinggi, industri yang semakin kuat, dan kesempatan kerja yang semakin luas,” ujar Abdul Rahman.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




