HOME  ⁄  Ekonomi

Mari Elka Pangestu Dorong Pengembangan Beras Hijau untuk Tingkatkan Produksi dan Pendapatan Petani

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Mari Elka Pangestu Dorong Pengembangan Beras Hijau untuk Tingkatkan Produksi dan Pendapatan Petani
Foto: Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menjawab pertanyaan wartawan saat wawancara cegat di kegiatan Kontan Economic & Demographic Forum di Jakarta, Selasa 29/9/2026 (sumber: ANTARA/Imamatul Silfia)

Pantau - Utusan Khusus Presiden RI untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu mendorong pengembangan green rice atau beras hijau di Indonesia untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus mengurangi dampak kegiatan pertanian terhadap lingkungan.

Dalam Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa, Mari menjelaskan beras hijau merupakan praktik produksi padi yang memungkinkan peningkatan hasil panen dari lahan yang sama dengan penggunaan sumber daya lebih efisien.

Praktik tersebut menggunakan air dan pupuk dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan metode budidaya konvensional.

Pengurangan penggunaan air dan pupuk juga dapat membantu menekan emisi metana yang dihasilkan dari kegiatan pertanian.

Limbah setelah proses panen juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai kompos untuk mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

Indonesia Didorong Belajar dari Vietnam

Mari mengatakan praktik beras hijau telah terbukti diterapkan di Vietnam sehingga Indonesia diharapkan dapat mengembangkan pendekatan serupa untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan produksi padi.

Selain beras, sejumlah komoditas pertanian Indonesia seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao dinilai telah mengalami kemajuan dalam memenuhi berbagai standar keberlanjutan.

Standar tersebut antara lain Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), serta Regulasi Anti-Deforestasi Uni Eropa (EUDR).

Menurut Mari, kemampuan produk Indonesia memenuhi standar keberlanjutan dapat memberikan nilai tambah hijau atau green premium.

Nilai tambah tersebut dinilai dapat memperkuat posisi produk Indonesia yang dihasilkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan.

Mari menekankan peningkatan produktivitas pertanian ke depan harus dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak kualitas tanah maupun mengganggu ketersediaan air.

Pengembangan benih berproduktivitas tinggi juga dinilai diperlukan dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim, termasuk peningkatan suhu dan keterbatasan pasokan air.

Beras Hijau Berpotensi Hasilkan Kredit Karbon

Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi sumber daya, praktik beras hijau dinilai berpotensi memberikan manfaat ekonomi tambahan kepada petani melalui mekanisme nilai ekonomi karbon.

Menurut Mari, pengurangan emisi dari praktik budidaya beras hijau dapat dikonversikan menjadi kredit karbon apabila memenuhi berbagai persyaratan pengukuran dan verifikasi.

Mekanisme tersebut membuat pengembangan beras hijau berpotensi memberikan manfaat dari sisi peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, sekaligus pendapatan petani.

"Dengan begitu, kita bisa meraih tiga keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah peningkatan produksi, kedua adalah keberlanjutan lingkungan dan yang paling penting peningkatan pendapatan bagi para petani," kata Mari.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026