HOME  ⁄  Ekonomi

Menperin Sarmuji Dorong IKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor lewat Teknologi Digital

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Menperin Sarmuji Dorong IKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Ekspor lewat Teknologi Digital
Foto: Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji (sumber: Kemenperin)

Pantau - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong industri kecil dan menengah (IKM) naik kelas dan berorientasi ekspor melalui pembinaan terarah serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar global.

Sarmuji menilai besarnya jumlah IKM di Indonesia menjadi kekuatan yang perlu dioptimalkan untuk menopang struktur industri nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, terdapat 4,43 juta unit usaha industri kecil dan menengah di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4,41 juta merupakan industri kecil dan mikro, sedangkan 22.161 unit merupakan industri menengah.

Teknologi Digital Buka Peluang IKM Tembus Pasar Global

Sarmuji mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah pola perdagangan sekaligus membuka peluang semakin luas bagi pelaku IKM untuk menjangkau konsumen di berbagai negara.

“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri,” ungkap Sarmuji.

Perdagangan elektronik dan berbagai platform digital dinilai dapat membantu pelaku IKM mengatasi keterbatasan akibat skala usaha maupun jarak geografis.

Kehadiran produk IKM Indonesia di pasar internasional juga dinilai tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas dan kekayaan Indonesia kepada masyarakat dunia.

“Dalam konteks tertentu, ini juga bisa menjadi diplomasi lunak. Produk-produk kita yang masuk ke luar negeri membawa identitas Indonesia. Jadi, nilai yang dibawa bukan hanya ekonomi, tetapi juga pengenalan Indonesia kepada masyarakat global,” kata Sarmuji.

Pembinaan IKM Harus Terukur dan Berorientasi Naik Kelas

Selain mendorong orientasi ekspor, Sarmuji meminta program pembinaan IKM memiliki indikator keberhasilan yang lebih konkret dan terukur.

Pemerintah perlu memastikan berbagai bentuk intervensi dan pembinaan benar-benar mampu meningkatkan skala bisnis pelaku IKM.

Salah satu hasil konkret yang diharapkan adalah industri kecil dapat berkembang dan naik kelas menjadi industri menengah.

“Kita perlu identifikasi apakah yang kita lakukan terhadap IKM benar-benar bisa membuat mereka naik menjadi lebih tinggi. Misalnya, industri kecil bisa naik menjadi industri menengah. Jadi, pembinaan itu harus terlihat hasil akhirnya dan kita bisa mengukur perkembangannya,” tegas Sarmuji.

Menurut Sarmuji, keberhasilan pemberdayaan IKM tidak cukup hanya diukur berdasarkan jumlah pelaku usaha yang mendapatkan pelatihan atau fasilitasi pemerintah.

Perkembangan usaha setelah memperoleh intervensi dan pembinaan juga perlu menjadi tolok ukur keberhasilan program pemerintah.

Indikator tersebut antara lain peningkatan produktivitas, kapasitas produksi, omzet, penyerapan tenaga kerja, akses pasar, serta kemampuan IKM masuk ke dalam rantai pasok industri.

IKM Berdaya Saing Jadi Prioritas Akselerasi

Sarmuji juga mengarahkan pembinaan dilakukan secara lebih terfokus dengan terlebih dahulu mengidentifikasi IKM yang mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif.

IKM dengan keunggulan dan potensi pasar yang kuat dinilai perlu memperoleh dorongan serta akselerasi agar dapat berkembang lebih cepat.

“Kita identifikasi industri-industri yang punya keunggulan kompetitif dan komparatif, meskipun wujudnya industri kecil dan menengah. Kalau memang punya keunggulan dan potensi pasar yang kuat, itu yang perlu kita dorong dan akselerasi,” kata Sarmuji.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026