HOME  ⁄  Ekonomi

Pupuk Indonesia Siapkan Stok 350 Ribu Ton untuk Sulawesi, Maluku, dan Papua, Harga Pupuk Bersubsidi Turun 20 Persen

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Pupuk Indonesia Siapkan Stok 350 Ribu Ton untuk Sulawesi, Maluku, dan Papua, Harga Pupuk Bersubsidi Turun 20 Persen
Foto: Regional CEO PT Pupuk Indonesia Wilayah IV (Sulawesi, Maluku, dan Papua), Wisnu Ramadhani (sumber: ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra)

Pantau - PT Pupuk Indonesia (Persero) menyiapkan cadangan pupuk bersubsidi sebanyak 350 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua menjelang musim tanam, sekaligus memastikan pasokan tetap aman di tengah kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.

Regional CEO PT Pupuk Indonesia Wilayah IV Wisnu Ramadhani memastikan cadangan pupuk tersebut mencukupi untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan sektor pertanian di kawasan Indonesia Timur, termasuk Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kepastian itu disampaikan Wisnu saat ditemui di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/10/2026).

"Untuk wilayah kami di Regional 4 yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Papua, stok yang tersedia mencapai 350.000 ton. Jadi kondisinya cukup aman," ujar Wisnu.

Menurutnya, ketersediaan pupuk yang relatif aman tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga penyerapan pupuk oleh petani belum mencapai puncaknya.

Kondisi tersebut dimanfaatkan perusahaan untuk memperkuat cadangan pupuk melalui strategi pembangunan stok atau building stock sebelum permintaan meningkat saat musim tanam.

Stok Pupuk Bersubsidi di Indonesia Timur Aman hingga 2,5 Bulan

Wisnu Ramadhani menjelaskan bahwa cadangan pupuk bersubsidi sebanyak 350 ribu ton di Regional IV diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan petani selama 2,5 bulan ke depan.

Ketahanan stok tersebut mencakup wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, termasuk daerah sentra pertanian di Sulawesi Tenggara.

"Khusus di wilayah Indonesia Timur, stok yang ada saat ini mampu bertahan hingga 2,5 bulan ke depan, termasuk untuk pasokan di Sulawesi Tenggara," jelas Wisnu.

Menurutnya, penguatan cadangan pupuk dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasanya terjadi ketika musim hujan mulai berlangsung dan petani memasuki masa penanaman.

Selama musim kemarau, aktivitas penanaman di sejumlah wilayah masih menyesuaikan kondisi cuaca dan ketersediaan air sehingga kebutuhan pupuk belum mengalami peningkatan signifikan.

PT Pupuk Indonesia memanfaatkan periode tersebut untuk memastikan ketersediaan pupuk dalam jumlah memadai sebelum memasuki puncak kebutuhan pertanian.

Wisnu menyebutkan bahwa peningkatan permintaan pupuk diperkirakan terjadi seiring datangnya musim hujan yang diprediksi mulai aktif pada akhir Desember 2026.

"Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan tinggi akan dimulai pada Desember, dan saat itulah para petani biasanya mulai melakukan penanaman," ungkapnya.

Perkiraan tersebut menjadi salah satu dasar perusahaan dalam menyiapkan strategi distribusi dan penguatan cadangan pupuk bersubsidi di kawasan Indonesia Timur.

Pupuk Indonesia Tingkatkan Stok Kios Resmi hingga 20 Ton

Selain memperkuat cadangan di tingkat regional, PT Pupuk Indonesia meningkatkan persediaan pupuk bersubsidi pada jaringan pengecer resmi atau Penyalur Pupuk di Titik Serah (PPTS).

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pupuk tidak hanya tersedia di gudang, tetapi juga dapat langsung diakses petani melalui kios resmi.

Wisnu menjelaskan bahwa sebelumnya kios pengecer resmi umumnya hanya menyediakan cadangan pupuk sekitar 5 hingga 10 ton.

Namun, perusahaan kini meningkatkan jumlah persediaan pupuk di masing-masing PPTS hingga mencapai 20 ton sebagai bagian dari penguatan distribusi secara nasional.

"Jika biasanya kios pengecer hanya menyetok 5 hingga 10 ton, saat ini stok di masing-masing PPTS dinaikkan hingga mencapai 20 ton di seluruh Indonesia," kata Wisnu.

Peningkatan stok di tingkat pengecer diharapkan dapat mengurangi risiko kekurangan pupuk ketika kebutuhan petani meningkat secara bersamaan pada awal musim tanam.

Penguatan jaringan distribusi tersebut juga bertujuan mempercepat pelayanan penebusan pupuk bersubsidi agar petani tidak mengalami kesulitan memperoleh kebutuhan produksi pertanian.

Petani Terdaftar e-RDKK Bisa Langsung Tebus Pupuk di Kios Resmi

PT Pupuk Indonesia memastikan mekanisme penebusan pupuk bersubsidi melalui jaringan pengecer resmi saat ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Wisnu Ramadhani menjelaskan bahwa salah satu persyaratan utama untuk memperoleh pupuk bersubsidi adalah petani harus terdaftar dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

Sistem tersebut digunakan sebagai dasar pendataan petani yang berhak menerima alokasi pupuk bersubsidi sesuai ketentuan pemerintah.

Petani yang telah terdaftar dapat mendatangi kios resmi untuk melakukan penebusan pupuk dengan membayar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.

"Petani yang terdaftar di e-RDKK cukup datang ke kios dan membayar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan, lalu pupuk bisa langsung dibawa pulang," jelas Wisnu.

Melalui mekanisme tersebut, perusahaan berupaya memastikan proses penebusan pupuk bersubsidi dapat dilakukan secara mudah dan sesuai ketentuan.

Harga Pupuk Urea Turun Jadi Rp90 Ribu, NPK Phonska Rp92 Ribu per Sak

Selain menjamin ketersediaan pasokan, pemerintah memberikan kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen untuk membantu meringankan biaya produksi pertanian.

Wisnu Ramadhani menjelaskan bahwa penurunan harga tersebut berlaku untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi yang disalurkan melalui jaringan resmi sesuai ketentuan pemerintah.

Salah satu jenis pupuk yang mengalami penurunan harga adalah Urea kemasan 50 kilogram yang sebelumnya dijual Rp112.000 per sak menjadi Rp90.000 per sak.

Sementara itu, harga pupuk NPK Phonska kemasan 50 kilogram turun dari Rp115.000 menjadi Rp92.000 per sak.

"Harga pupuk jenis Urea turun dari Rp112.000 menjadi Rp90.000 per sak ukuran 50 kilogram. Sedangkan pupuk NPK Phonska mengalami penurunan dari Rp115.000 menjadi Rp92.000 per sak ukuran 50 kilogram," ungkap Wisnu.

Penurunan harga tersebut memberikan kesempatan kepada petani untuk memperoleh kebutuhan pupuk dengan biaya lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keterjangkauan harga sarana produksi pertanian menjelang peningkatan aktivitas penanaman.

Pupuk Indonesia Minta Petani Laporkan Kios yang Jual di Atas HET

PT Pupuk Indonesia menegaskan pentingnya transparansi harga dalam penyaluran pupuk bersubsidi agar petani mengetahui besaran HET yang telah ditetapkan pemerintah.

Untuk mendukung keterbukaan informasi, perusahaan mewajibkan pemasangan daftar harga pupuk bersubsidi di setiap kios pengecer resmi.

Daftar harga tersebut disediakan agar petani dapat mengetahui harga penebusan pupuk dan memastikan pembayaran dilakukan sesuai ketentuan.

Selain memasang informasi harga, perusahaan menyediakan layanan pengaduan bagi masyarakat yang menemukan dugaan penjualan pupuk bersubsidi melebihi HET.

Petani dapat menyampaikan laporan melalui nomor pengaduan yang tercantum di masing-masing kios resmi.

"Informasi harga sudah kami tempel di setiap kios agar petani tahu. Jika menemukan ada penebusan di atas harga resmi, silakan laporkan ke nomor pengaduan yang tertera di masing-masing kios," tegas Wisnu.

Penyediaan layanan pengaduan tersebut menjadi bagian dari pengawasan distribusi pupuk bersubsidi untuk mencegah pelanggaran harga di tingkat pengecer.

Melalui cadangan sebanyak 350 ribu ton, peningkatan stok kios hingga 20 ton, serta pengawasan harga penjualan, PT Pupuk Indonesia berupaya memastikan kebutuhan pupuk petani di Sulawesi, Maluku, dan Papua tetap terpenuhi menjelang musim tanam.

Perusahaan juga terus memperkuat distribusi agar peningkatan kebutuhan pupuk saat musim hujan dapat diantisipasi tanpa mengganggu kelancaran kegiatan pertanian di kawasan Indonesia Timur.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026