HOME  ⁄  Ekonomi

Pertamina EP Rantau Bor Lima Sumur Migas Baru di Aceh Tamiang, Produksi Pulih Jadi 1.700 Barel per Hari Pascabanjir

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pertamina EP Rantau Bor Lima Sumur Migas Baru di Aceh Tamiang, Produksi Pulih Jadi 1.700 Barel per Hari Pascabanjir
Foto: (Sumber :Pengeboran sumur migas. ANTARA/HO-PT Pertamina Hulu Rokan.)

Pantau - PT Pertamina EP Rantau Field memulai pengeboran lima sumur minyak dan gas bumi (migas) baru di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, setelah berhasil memulihkan produksi minyak hingga mencapai 1.700 barel per hari dalam waktu empat bulan pascabanjir besar yang melanda wilayah operasionalnya.

Pengeboran tersebut dilakukan untuk mempertahankan produksi migas sekaligus mencari potensi cadangan baru guna mendukung ketahanan energi nasional.

Field Manager Pertamina EP Rantau Tomi Wahyu Alimsyah mengatakan pemulihan fasilitas dan pengoperasian kembali sumur produksi dilakukan secara bertahap setelah banjir menyebabkan aktivitas produksi terhenti.

"Setelah melakukan program pemulihan secara bertahap hingga penyelesaian tiga sumur bor baru kini produksi minyak kembali stabil di angka 1.700 barel per hari," kata Tomi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Pertamina EP Rantau Field merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 1 atau Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1.

Pertamina Tajak Lima Sumur Baru di Dua Desa Aceh Tamiang

Tomi menjelaskan bahwa lima sumur baru tersebut berada di dua desa di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Dua sumur pertama, yakni RNT DZ-51 dan RNT DZ-52, berlokasi di Desa Tanjung Seumantoh.

Kedua sumur tersebut dibor menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 tenaga kuda dengan kedalaman akhir masing-masing 1.145 MMD dan 1.037 MMD.

Sementara itu, tiga sumur lainnya, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33, berada di Desa Paya Meta.

Sumur RNT DZ-11 dibor menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 tenaga kuda hingga kedalaman akhir 1.132 MMD.

Adapun sumur RNT DZ-23A dan RNT DZ-33 masih berada dalam proses pengeboran.

"Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional," ujar Tomi.

Menurutnya, kegiatan pengeboran tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus mengembangkan potensi cadangan migas di Aceh Tamiang.

Produksi Minyak Kembali Stabil Setelah Empat Bulan Pemulihan

Pertamina EP Rantau Field berhasil mengembalikan produksi minyak ke tingkat sebelum banjir dalam waktu sekitar empat bulan.

Pemulihan dilakukan melalui empat tahapan, yakni fase darurat, pengaktifan kembali fasilitas, pemulihan operasional, dan keberlanjutan.

Tahapan tersebut mencakup penanganan keselamatan pekerja, pemenuhan kebutuhan dasar, perbaikan fasilitas, hingga penguatan sistem operasional jangka panjang.

"Tahap awal fokus pada kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan dan listrik. Setelah kondisi sudah membaik, tim kemudian bergerak mengaktifkan fasilitas dan sumur sumur produksi," ujar Tomi.

Banjir besar yang terjadi pada akhir 2025 sebelumnya menyebabkan sejumlah fasilitas produksi, perkantoran, dan permukiman pekerja terendam.

Ketinggian banjir dilaporkan mencapai 4 hingga 4,5 meter dengan endapan lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter.

Dampak bencana tersebut menyebabkan aktivitas produksi minyak sempat terhenti sepenuhnya.

Pertamina Modifikasi Fasilitas Gas untuk Pulihkan Pasokan Listrik

Salah satu tantangan utama dalam pemulihan operasional Pertamina EP Rantau Field adalah mengembalikan pasokan listrik yang terputus akibat banjir.

Gangguan kelistrikan menyebabkan instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) tidak dapat beroperasi karena terendam dan pompa air berhenti bekerja.

Pada saat yang sama, fasilitas produksi minyak juga tidak dapat beroperasi secara normal.

Tomi menjelaskan bahwa pembangkit listrik di wilayah kerja Pertamina EP Rantau menggunakan gas yang berasal dari sumur produksi.

"Pembangkit listrik di sini menggunakan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Akibat banjir HPCS yang kami miliki mengalami kerusakan berat. Maka, kami melakukan berbagai inovasi untuk bisa kembali menghidupkan listrik," katanya.

Banjir menyebabkan kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS), yang sebelumnya menjadi sumber tunggal pasokan gas untuk pembangkit listrik.

Setelah melakukan evaluasi, perusahaan memutuskan menggunakan fasilitas SP-5 yang dimodifikasi untuk menggantikan fungsi HPCS.

Langkah tersebut memungkinkan pasokan gas kembali tersedia sehingga pembangkit listrik dapat dioperasikan.

Saat ini, pasokan gas untuk pembangkit listrik berasal dari fasilitas SP-5 dan SP-12, sementara HPCS belum kembali diaktifkan.

"Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” ujar Tomi.

Pertamina dan SKK Migas Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Tomi menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan produksi dan pengeboran lima sumur baru tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak.

Perusahaan berkoordinasi dengan kontraktor penyedia jasa pengeboran serta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan eksplorasi dan produksi migas dapat terus berjalan setelah bencana.

"Kolaborasi bersama pihak kontraktor penyedia jasa rig serta dukungan penuh yang diberikan oleh SKK Migas menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan energi nasional," katanya.

Pertamina EP Rantau Field menyatakan akan terus melanjutkan kegiatan pengeboran dan penguatan fasilitas operasional untuk menjaga stabilitas produksi migas di Aceh Tamiang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026