HOME  ⁄  Ekonomi

LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp1,6 Triliun ke 150 Koperasi, Targetkan Rp2,2 Triliun hingga Akhir 2026

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp1,6 Triliun ke 150 Koperasi, Targetkan Rp2,2 Triliun hingga Akhir 2026
Foto: Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi Kementerian Koperasi Krisdianto saat sambutan Media Gathering LPDB Koperasi di Yogyakarta. Senin 12/10/2026 (sumber: ANTARA/Hery Sidik)

Pantau - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi Kementerian Koperasi (Kemenkop) mencatat realisasi penyaluran dana bergulir mencapai Rp1,6 triliun kepada sekitar 150 koperasi di 35 provinsi sepanjang 2026 hingga Oktober, dengan target pembiayaan meningkat menjadi Rp2,1 triliun hingga Rp2,2 triliun pada akhir tahun.

Direktur Utama LPDB Koperasi Kementerian Koperasi, Krisdianto, mengatakan penyaluran dana tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pembiayaan koperasi, khususnya yang bergerak di sektor usaha produktif.

"Sudah terealisasi Rp1,6 triliun untuk kurang lebih di sekitar 150 koperasi dan tersebar di 35 provinsi," kata Krisdianto di sela kegiatan Media Gathering LPDB Koperasi di Yogyakarta, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, penyaluran dana bergulir akan terus dilanjutkan hingga akhir tahun untuk memperluas akses pembiayaan koperasi sekaligus mendukung berbagai program prioritas pemerintah.

LPDB Koperasi juga berupaya menjangkau wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses pembiayaan, termasuk Papua yang memiliki tantangan geografis dalam penyaluran dana.

LPDB Koperasi Targetkan Penyaluran Rp2,2 Triliun hingga Desember 2026

Krisdianto menjelaskan bahwa realisasi penyaluran dana bergulir sebesar Rp1,6 triliun masih berpotensi meningkat seiring dengan berlanjutnya proses pembiayaan kepada koperasi di berbagai daerah.

LPDB Koperasi menargetkan total penyaluran dana bergulir pada akhir Desember 2026 mencapai kisaran Rp2,1 triliun hingga Rp2,2 triliun.

"Tapi mudah-mudahan sampai dengan Desember nanti kita bisa tembus Rp2,1 triliun sampai Rp2,2 triliun. Harapannya seperti itu," katanya.

Dengan realisasi sementara sebesar Rp1,6 triliun, LPDB Koperasi masih membutuhkan tambahan penyaluran sekitar Rp500 miliar hingga Rp600 miliar untuk mencapai target tersebut.

Krisdianto menyebutkan bahwa pembiayaan dana bergulir telah menjangkau sekitar 150 koperasi yang tersebar di 35 provinsi.

Meski demikian, pemerataan akses pembiayaan masih menjadi perhatian, terutama bagi koperasi yang berada di wilayah dengan kondisi geografis menantang.

Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Papua karena masih terdapat koperasi yang belum memperoleh akses terhadap fasilitas pembiayaan LPDB.

LPDB Koperasi akan terus berupaya memperluas jangkauan penyaluran agar lebih banyak koperasi dapat memanfaatkan dana bergulir untuk mengembangkan kegiatan usahanya.

Sebanyak 85 Persen Pembiayaan Diarahkan ke Sektor Riil

Krisdianto menjelaskan bahwa mayoritas penyaluran dana bergulir LPDB Koperasi diarahkan untuk mendukung kegiatan usaha di sektor riil sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Sekitar 85 persen dari target pembiayaan Rp2,1 triliun dialokasikan untuk koperasi yang menjalankan kegiatan ekonomi produktif.

Jika dihitung berdasarkan target tersebut, porsi pembiayaan sektor riil mencapai sekitar Rp1,785 triliun.

"Jadi kurang lebih 85 persen dari Rp2,1 triliun itu pembiayaannya adalah di sektor riil. Sektor riil itu ya di dalamnya ada KDKMP, terus kemudian program-program strategis nasionalnya Pak Prabowo, maupun program prioritasnya kementerian kami," katanya.

Salah satu sasaran pembiayaan tersebut adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menjadi bagian dari program penguatan ekonomi berbasis koperasi.

Selain KDKMP, LPDB Koperasi juga mengarahkan pembiayaan untuk mendukung program strategis nasional dan berbagai prioritas Kementerian Koperasi.

Kegiatan usaha yang menjadi sasaran pembiayaan mencakup sektor produksi, pengolahan komoditas, serta berbagai aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan nilai tambah produk.

Melalui pembiayaan tersebut, pemerintah berharap koperasi mampu memperkuat perannya dalam mendukung kegiatan ekonomi produktif di berbagai daerah.

Hilirisasi Sawit, Perumahan Rakyat, dan Ketahanan Pangan Jadi Prioritas

LPDB Koperasi turut memprioritaskan pembiayaan bagi koperasi yang bergerak dalam pengembangan hilirisasi kelapa sawit.

Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat kegiatan pengolahan komoditas sawit sehingga koperasi dapat berperan dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Selain hilirisasi sawit, pembiayaan dana bergulir juga diarahkan untuk mendukung sektor perumahan rakyat melalui koperasi yang menjalankan kegiatan usaha terkait penyediaan hunian.

Krisdianto menjelaskan bahwa koperasi memiliki peluang untuk berkontribusi dalam program perumahan rakyat dengan memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang tersedia.

Sektor ketahanan pangan juga menjadi salah satu fokus penyaluran dana bergulir LPDB Koperasi.

Pembiayaan tersebut antara lain diberikan kepada koperasi yang bergerak dalam produksi beras, tebu, dan berbagai komoditas pertanian lainnya.

"Selanjutnya untuk mendukung ketahanan pangan, kemandirian beras untuk koperasi yang menghasilkan beras, menghasilkan tebu dan segala macam, seperti itu," katanya.

LPDB Koperasi juga mendorong penyaluran pembiayaan kepada koperasi di sektor perikanan dan usaha yang berkaitan dengan kebutuhan nelayan.

Salah satu bentuk dukungan yang menjadi perhatian adalah pembiayaan untuk membantu penyediaan bahan bakar solar bagi kegiatan penangkapan ikan.

"Dan harus sebisa mungkin LPDB 'inline' dengan program pemerintah, Kemenkop, yaitu hilirisasi sawit sebisa mungkin kita banyak menyalurkan di segmen sawit, segmen perikanan, segmen nelayan itu untuk ketersediaan bahan bakar solar buat nelayan," katanya.

LPDB Terapkan Tiga Indikator Keberhasilan Penyaluran Dana Bergulir

Krisdianto menegaskan bahwa keberhasilan program dana bergulir tidak hanya diukur berdasarkan besarnya nilai pembiayaan yang berhasil disalurkan kepada koperasi.

LPDB Koperasi menerapkan tiga indikator utama yang disebut sebagai three sukses, yakni sukses penyaluran, sukses kemanfaatan, dan sukses pengembalian.

Indikator pertama adalah sukses penyaluran yang mengukur jumlah koperasi penerima pembiayaan serta nilai dana bergulir yang berhasil dicairkan.

Menurut Krisdianto, peningkatan jumlah koperasi penerima dan besarnya nilai pembiayaan menjadi salah satu ukuran perkembangan program dari tahun ke tahun.

"Jadi jumlah koperasi, nilai yang dicairkan itu menjadi suksesnya kita. Makanya kan target Rp2,1 triliun tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya sekian triliun itu artinya apa, tiap tahun mengalami peningkatan, itu sukses yang pertama," katanya.

Indikator kedua adalah sukses kemanfaatan yang menilai sejauh mana dana bergulir benar-benar digunakan koperasi untuk menjalankan kegiatan usaha produktif.

Krisdianto menekankan bahwa pembiayaan yang disalurkan harus memberikan manfaat nyata bagi koperasi penerima dan sejalan dengan program prioritas pemerintah.

Karena itu, LPDB Koperasi berupaya memastikan dana bergulir dimanfaatkan untuk memperkuat sektor ekonomi produktif, termasuk hilirisasi sawit, pertanian, perikanan, dan kegiatan usaha lainnya.

Indikator ketiga adalah sukses pengembalian yang berkaitan dengan kemampuan koperasi memenuhi kewajiban pembayaran dana bergulir sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.

LPDB Koperasi Tekankan Pengendalian Kredit Bermasalah dan Restrukturisasi

Krisdianto menjelaskan bahwa kualitas pengembalian dana bergulir menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlanjutan program pembiayaan koperasi.

Salah satu ukuran yang digunakan adalah tingkat kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Semakin rendah tingkat pembiayaan bermasalah, semakin baik kemampuan koperasi penerima dalam mengelola dana dan memenuhi kewajiban pengembaliannya.

Menurut Krisdianto, koperasi yang mampu mengembalikan pinjaman sesuai jadwal menunjukkan kemampuan mengelola kepercayaan pembiayaan yang diberikan LPDB.

Meski demikian, LPDB Koperasi tetap mempertimbangkan adanya risiko bisnis yang dapat memengaruhi kemampuan koperasi dalam memenuhi kewajiban pembayaran.

Apabila koperasi mengalami kendala usaha, LPDB menyediakan mekanisme restrukturisasi untuk mengatur kembali jadwal pengembalian pembiayaan sesuai ketentuan program.

"Koperasi bagus dan bisa mengelola kepercayaan yang diberikan LPDB sehingga mereka dapat mengembalikan LPDB tanpa ada kemacetan. Kalaupun terjadi adanya resiko bisnis yang mereka hadapi tetap ada jadwalnya melalui program restrukturisasi," katanya.

Melalui penerapan tiga indikator keberhasilan tersebut, LPDB Koperasi berupaya memastikan peningkatan penyaluran dana bergulir tetap diikuti pemanfaatan pembiayaan yang produktif dan pengelolaan risiko pengembalian.

Dengan realisasi Rp1,6 triliun hingga Oktober 2026, LPDB Koperasi akan melanjutkan penyaluran dana bergulir kepada koperasi di berbagai daerah untuk mengejar target Rp2,1 triliun hingga Rp2,2 triliun pada akhir tahun sekaligus memperkuat dukungan pembiayaan bagi sektor riil.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026