
Pantau - Indonesia memperkenalkan berbagai inovasi pangan dan produk pertanian bernilai tambah dalam pameran internasional From Seeds to Foods yang diselenggarakan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) di Circo Massimo, Roma, Italia, pada 8–12 Oktober 2026 untuk memperluas pasar ekspor dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Keikutsertaan Indonesia dalam pameran tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, mempercepat hilirisasi pertanian, serta membuka peluang kerja sama internasional dalam pengembangan komoditas unggulan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pertanian, pengetahuan lokal, dan tradisi pangan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Keberagaman tanaman, pengetahuan pertanian, dan tradisi pangan Indonesia menjadi landasan kuat untuk meningkatkan ketahanan pangan serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi para petani," kata Suwandi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menurut Suwandi, keikutsertaan Indonesia dalam pameran From Seeds to Foods merupakan partisipasi kedua kalinya sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengembangkan potensi pertanian lokal melalui inovasi dan pengolahan hasil produksi.
Indonesia Perkenalkan Talas Beneng, Mangga Gedong Gincu, hingga Rempah Maluku
Dalam pameran tersebut, Indonesia menampilkan sejumlah komoditas pertanian unggulan dari berbagai daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Salah satu komoditas yang diperkenalkan adalah talas beneng asal Provinsi Banten yang menjadi bagian dari kekayaan tanaman pangan lokal Indonesia.
Indonesia juga menghadirkan mangga gedong gincu dari Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebagai salah satu komoditas buah unggulan yang berpotensi memperluas pasar internasional.
Selain itu, pala dan cengkih dari Kepulauan Maluku turut dipamerkan untuk memperkenalkan kekayaan rempah Nusantara kepada pengunjung dari berbagai negara.
Produk pertanian lainnya yang ditampilkan meliputi sarang burung walet siap ekspor, madu, kopi, keripik buah tropis, serta berbagai makanan dan minuman berbahan baku hasil pertanian lokal.
Salah satu komoditas yang mendapat perhatian adalah daun kelor yang telah dikembangkan menjadi beragam produk makanan dan minuman.
Pengolahan daun kelor tersebut menjadi contoh pemanfaatan tanaman lokal melalui inovasi untuk menghasilkan produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Melalui pameran ini, Indonesia berupaya menunjukkan bahwa komoditas pertanian nasional tidak hanya dapat dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
FAO Dukung Petani Pisang Mas Kirana Lumajang dan Pengembangan Mangga
Selain memperkenalkan produk unggulan, Indonesia menampilkan sejumlah hasil kerja sama antara Kementerian Pertanian dan FAO dalam pengembangan komoditas pertanian serta peningkatan kapasitas petani kecil.
Salah satu kerja sama tersebut dilakukan melalui program One Country One Priority Product (OCOP) yang mendukung pengembangan komoditas pertanian prioritas di berbagai negara.
Melalui program tersebut, FAO memberikan dukungan kepada petani pisang mas kirana di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Dukungan yang diberikan mencakup peningkatan produktivitas tanaman, perbaikan kualitas hasil panen, penguatan keberlanjutan usaha, serta peningkatan kesiapan produk untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk kerja sama internasional untuk memperkuat daya saing komoditas pertanian lokal melalui peningkatan kapasitas petani kecil.
Selain pengembangan pisang mas kirana, Indonesia dan FAO juga bekerja sama dalam pengembangan komoditas mangga melalui program Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular.
Program tersebut memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara petani Indonesia dan Filipina mengenai praktik produksi serta pengolahan mangga yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
Kerja sama lainnya mencakup pelestarian keanekaragaman tanaman pertanian, khususnya komoditas pala dan cengkih di Provinsi Maluku Utara dengan dukungan Global Environment Facility (GEF).
Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat lokal dalam menjaga keanekaragaman tanaman sekaligus mempertahankan potensi ekonomi komoditas pertanian daerah.
FAO Nilai Inovasi Pertanian Indonesia Berpotensi Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menilai inovasi pertanian yang dikembangkan melalui keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan.
Menurut Rajendra, kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, dan petani kecil dapat membantu mengembangkan berbagai gagasan menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Diprakarsai oleh pemerintah Indonesia, FAO, dan petani kecil di seluruh penjuru nusantara, berbagai inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat mengubah gagasan menjadi dampak nyata, meningkatkan taraf hidup, serta berkontribusi pada ketahanan pangan Indonesia," ujar Rajendra.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat keberlanjutan usaha, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi komoditas lokal.
Pengembangan inovasi pertanian juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah produk sehingga petani dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil produksinya.
Indonesia Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Budaya Lewat Pameran Pangan Dunia
Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia sekaligus Perwakilan Tetap RI untuk FAO, Junimart Girsang, mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam pameran tersebut juga menjadi sarana diplomasi ekonomi dan budaya.
Menurut Junimart, pameran From Seeds to Foods memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memperkenalkan produk pertanian unggulan sekaligus menunjukkan kekayaan tradisi pangan Nusantara kepada masyarakat internasional.
Selain memamerkan produk pertanian, Indonesia menyelenggarakan diskusi, pertunjukan budaya, serta penampilan kain dan alat musik tradisional.
"Melalui acara ini pula, kami mengajak pengunjung untuk mengenal warisan masyarakat pertanian Indonesia lewat talkshow serta pertunjukan budaya unik yang menampilkan kain dan alat musik tradisional, yang mencerminkan kearifan lokal tentang penghormatan dan harmoni dengan alam," ucap Junimart.
Indonesia juga mengadakan kegiatan mencicipi makanan dan demonstrasi memasak untuk memperkenalkan cita rasa kuliner Nusantara kepada pengunjung internasional.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan hubungan antara tradisi pertanian, pemanfaatan sumber daya alam, dan pengembangan produk pangan Indonesia.
Pameran FAO 2026 Diikuti Lebih dari 300 Peserta dari 140 Negara
FAO mencatat pameran From Seeds to Foods edisi kedua diikuti lebih dari 300 peserta pameran yang berasal dari lebih dari 140 negara.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperkenalkan sekitar 400 produk pertanian dan pangan serta lebih dari 40 inovasi yang berkaitan dengan pengembangan sektor pertanian dan sistem pangan.
Pameran tahun 2026 mengangkat tema Fostering Innovation for Food Security and Nutrition atau Mendorong Inovasi untuk Ketahanan Pangan dan Gizi.
Tema tersebut menekankan pentingnya inovasi dalam mendukung ketersediaan pangan, peningkatan kualitas gizi, serta pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Pameran secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, pada 8 Oktober 2026 di Roma, Italia.
Penyelenggaraan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian acara menjelang peringatan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober.
Ekspor Kopi Indonesia Tembus Rp18,10 Triliun, Pala Naik 19,44 Persen
Keikutsertaan Indonesia dalam pameran pangan internasional tersebut turut didukung oleh potensi ekonomi sejumlah komoditas pertanian nasional yang telah memiliki pasar ekspor.
Salah satu komoditas unggulan tersebut adalah kopi yang menjadi bagian dari produk pertanian Indonesia yang diperkenalkan dalam pameran FAO di Roma.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kopi Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 1 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp18,10 triliun.
Dalam periode yang sama, volume ekspor kopi nasional tercatat mencapai 208,1 ribu ton.
Selain kopi, pala juga menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan yang menunjukkan peningkatan nilai perdagangan internasional.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor pala Indonesia sepanjang 2025 mencapai 133,01 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,26 triliun.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian pada 2024 yang tercatat sebesar 111,36 juta dolar Amerika Serikat.
Dengan demikian, ekspor pala Indonesia mengalami kenaikan sebesar 21,65 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar 19,44 persen dari 2024 ke 2025.
Kinerja ekspor kopi dan pala tersebut menunjukkan potensi pengembangan komoditas pertanian nasional melalui peningkatan kualitas produk, inovasi pengolahan, dan perluasan akses pasar internasional.
Melalui partisipasi dalam pameran From Seeds to Foods 2026, Indonesia berupaya memperkuat hilirisasi pertanian, mengembangkan inovasi pangan, melestarikan keanekaragaman hayati, serta memperluas kerja sama internasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan kesejahteraan petani dalam negeri.
- Penulis :
- Arian Mesa




