
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 10,17 poin atau 0,17 persen ke posisi 5.925,98 pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global.
Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan dengan penurunan sebesar 1,71 poin atau 0,29 persen ke posisi 589,19.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen investor.
"Pasar juga dibebani oleh reaksi pelaku pasar yang terus mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah," ujar Nico melalui kajiannya di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Menurut Nico, konflik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi, meningkatkan tekanan inflasi, serta memberikan dampak terhadap kondisi pasar keuangan global.
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Brent Jadi Perhatian Investor
Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang dicermati pelaku pasar dalam perdagangan saham.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan masih berada di atas 105 dolar Amerika Serikat (AS) per barel di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Tingginya harga minyak tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi yang dapat memengaruhi kebijakan moneter berbagai negara.
Investor juga mempertimbangkan dampak kenaikan harga energi terhadap biaya produksi, aktivitas ekonomi, dan prospek pertumbuhan global.
Selain mencermati konflik Timur Tengah, pelaku pasar menantikan publikasi data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode September 2026.
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui perkembangan inflasi di Amerika Serikat.
Pergerakan inflasi selanjutnya akan menjadi perhatian investor dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Prospek kebijakan suku bunga The Fed menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus investasi dan sentimen pasar keuangan internasional.
IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3,1 Persen
Di tengah ketidakpastian geopolitik, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 menjadi 3,1 persen.
Proyeksi tersebut meningkat 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan IMF pada Juli 2026 yang sebesar 3,0 persen.
Revisi tersebut disampaikan dalam laporan prospek ekonomi global yang dirilis bersamaan dengan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand.
Pertemuan tersebut dihadiri para pemimpin ekonomi dan keuangan global untuk membahas perkembangan serta tantangan perekonomian internasional.
Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, IMF tetap menyoroti sejumlah risiko yang dapat membebani perekonomian dunia.
Kepala Ekonom IMF Silvana Tenreyro menyampaikan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Selain itu, konflik yang berlangsung dalam jangka panjang juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Nico menjelaskan bahwa risiko terhadap pasar saham tidak hanya berasal dari ketegangan geopolitik dan perkembangan harga energi.
Sejumlah faktor lain yang menjadi perhatian mencakup memburuknya prospek fiskal, penilaian ulang terhadap profitabilitas investasi kecerdasan buatan (AI), serta peristiwa cuaca ekstrem.
Kombinasi berbagai risiko tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap prospek pergerakan IHSG.
Saham Teknologi Global Tertekan akibat Kekhawatiran Investasi AI
Dari perkembangan pasar saham global, sektor teknologi menghadapi tekanan jual seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan.
Pelaku pasar mulai melakukan penilaian ulang terhadap rencana belanja modal perusahaan teknologi di tengah tingginya biaya pinjaman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena biaya pembiayaan dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dalam melakukan investasi dan memperoleh keuntungan.
Selain itu, investor mempertimbangkan risiko valuasi saham perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi AI.
Persaingan teknologi dari China juga menjadi salah satu faktor yang disebut memicu tekanan jual pada saham perusahaan semikonduktor.
Perkembangan tersebut turut menjadi bagian dari sentimen global yang dicermati investor dalam menilai prospek pasar saham, termasuk di Indonesia.
IHSG Bertahan di Zona Merah hingga Penutupan Perdagangan
Dari pergerakan pasar domestik, IHSG dibuka melemah pada awal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia.
Setelah bergerak di zona negatif, indeks terus mengalami tekanan hingga penutupan sesi pertama.
Memasuki sesi kedua, pelemahan masih berlanjut sehingga IHSG tetap berada di zona merah hingga akhir perdagangan.
Berdasarkan klasifikasi Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak tujuh sektor saham mencatatkan penguatan, sedangkan empat sektor lainnya mengalami pelemahan.
Sektor properti mencatatkan penguatan terbesar dengan kenaikan 1,83 persen.
Penguatan berikutnya terjadi pada sektor energi yang naik 0,40 persen.
Sektor kesehatan juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,28 persen.
Di sisi lain, sektor teknologi mengalami pelemahan terdalam dengan penurunan 0,95 persen.
Sektor barang konsumen nonprimer turut melemah sebesar 0,61 persen.
Sementara itu, sektor keuangan mengalami penurunan sebesar 0,18 persen.
Pergerakan sektoral tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG tidak terjadi secara merata pada seluruh sektor saham.
Transaksi Saham BEI Capai Rp10,57 Triliun dengan Volume 33,11 Miliar Lembar
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sepanjang Selasa mencatatkan frekuensi transaksi sebanyak 1,45 juta kali.
Total volume perdagangan mencapai 33,11 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,57 triliun.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 351 saham mengalami kenaikan harga.
Sementara itu, sebanyak 308 saham mencatatkan penurunan harga dan 304 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Dengan demikian, jumlah saham yang menguat tercatat lebih banyak dibandingkan saham yang melemah meskipun IHSG secara keseluruhan ditutup di zona negatif.
Lima saham yang mencatatkan penguatan terbesar adalah GRPH, SBMA, PICO, ARTA, dan UANG.
Adapun lima saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah ASMI, FOLK, POLA, KDTN, dan DAAZ.
Pergerakan saham individual tersebut menjadi bagian dari dinamika perdagangan di tengah sentimen global yang masih diperhatikan investor.
Bursa Asia Bergerak Beragam, Nikkei dan Kospi Melemah
Pergerakan bursa saham regional Asia pada perdagangan Selasa menunjukkan hasil yang beragam.
Indeks Nikkei Jepang tercatat melemah 1,68 persen ke posisi 67.870,00.
Indeks Kospi Korea Selatan juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 5,46 persen ke posisi 6.035,35.
Berbeda dengan kedua indeks tersebut, indeks Shanghai China mencatatkan penguatan sebesar 0,10 persen ke posisi 3.800,86.
Indeks Hang Seng Hong Kong turut menguat 0,30 persen ke posisi 24.355,22.
Sementara itu, indeks Straits Times Singapura meningkat sebesar 0,35 persen ke posisi 5.434,50.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian bursa regional Asia masih mampu mencatatkan penguatan meskipun sejumlah indeks utama mengalami pelemahan.
Secara keseluruhan, IHSG mengakhiri perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, pada posisi 5.925,98 atau turun 0,17 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp10,57 triliun.
Perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak mentah yang masih tinggi, data inflasi Amerika Serikat, serta prospek kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi sejumlah faktor yang dicermati pelaku pasar.
Selain itu, kekhawatiran terhadap valuasi dan profitabilitas investasi kecerdasan buatan turut menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Penulis :
- Arian Mesa




