
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/10/2026), di tengah perkembangan kebijakan pemerintah AS yang mencabut sementara sanksi terhadap bahan bakar minyak (BBM) asal Rusia.
Penguatan tersebut terjadi dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada pada level Rp17.913 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh keputusan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang tambahan pasokan bahan bakar Rusia ke pasar energi internasional.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut berkaitan dengan pernyataan Trump mengenai kesepakatan Rusia untuk memasok bahan bakar jenis solar ke pasar global.
"Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Pencabutan Sanksi BBM Rusia Berpotensi Tambah Pasokan Energi Global
Ibrahim menjelaskan bahwa pencabutan sementara sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia berpotensi meningkatkan ketersediaan pasokan energi di pasar internasional.
Tambahan pasokan solar dari Rusia diperkirakan dapat membantu meredakan ketatnya pasokan bahan bakar global sekaligus mengurangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko kekurangan energi.
Kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan sebelumnya menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak mentah di pasar internasional.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa perkembangan kebijakan energi antara Amerika Serikat dan Rusia masih menghadapi sejumlah ketidakpastian.
Salah satu sumber ketidakpastian tersebut berkaitan dengan keberlanjutan kesepakatan yang disebut sebagai "gencatan senjata energi" antara Rusia dan Ukraina.
Keraguan muncul setelah adanya laporan mengenai serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina seusai Trump mengumumkan kesepakatan terkait pasokan bahan bakar.
Perkembangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kesepakatan energi di tengah konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung.
Selain persoalan keamanan, kesepakatan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga mendapat perhatian anggota parlemen Amerika Serikat dari kedua partai.
Sejumlah anggota parlemen menilai kesepakatan tersebut tampaknya bertentangan dengan ketentuan hukum AS yang membatasi impor energi Rusia kecuali Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.
Penilaian tersebut menambah ketidakpastian mengenai keberlanjutan pelaksanaan kebijakan pencabutan sementara sanksi terhadap bahan bakar Rusia.
Serangan di Timur Tengah Ancam Pemulihan Pasokan Minyak
Di sisi lain, Ibrahim menyampaikan bahwa pasar energi global masih menghadapi kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Kekhawatiran tersebut meningkat menyusul serangan yang dilakukan Ansarullah Yaman terhadap Bandara Internasional Riyadh pada akhir pekan.
Selain serangan terhadap bandara, terdapat laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di kawasan dekat Selat Hormuz.
Rangkaian insiden tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena kawasan Teluk dan Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam distribusi energi internasional.
Menurut Ibrahim, gangguan keamanan tersebut berpotensi menghambat pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah yang sebelumnya mulai terlihat pada September 2026.
"Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September, sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia," ungkap Ibrahim.
Dengan kondisi tersebut, pasar energi global menghadapi dua perkembangan yang berbeda, yakni peluang tambahan pasokan bahan bakar dari Rusia dan risiko gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Kedua faktor tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati perkembangan harga energi dan pergerakan mata uang global.
Pasar Tunggu Data Inflasi AS, CPI Diperkirakan Naik 3,7 Persen
Selain mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan energi, pelaku pasar keuangan menantikan sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini.
Salah satu indikator utama yang menjadi perhatian adalah Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai perkembangan inflasi konsumen di Amerika Serikat selama September 2026.
Inflasi utama AS diperkirakan meningkat sebesar 0,6 persen secara bulanan atau month on month (mom), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Agustus 2026 sebesar 0,4 persen.
Perkiraan tersebut menunjukkan kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi tahunan AS diperkirakan mencapai 3,7 persen pada September 2026, meningkat dari posisi sebelumnya sebesar 3,4 persen.
Jika perkiraan tersebut terealisasi, inflasi tahunan AS akan mengalami kenaikan sebesar 0,3 poin persentase.
Selain CPI, pasar juga menantikan rilis Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) AS yang dijadwalkan pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan harga di tingkat konsumen maupun produsen.
Data inflasi AS juga menjadi salah satu pertimbangan pelaku pasar dalam menilai prospek kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh Jadi Perhatian Investor
Selain rilis data inflasi, perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Pidato tersebut dijadwalkan disampaikan dalam rangkaian pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok.
"Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10/2026) juga akan menjadi perhatian pasar," ucap Ibrahim.
Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed untuk memperoleh gambaran mengenai prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.
Perkembangan data inflasi dan arah kebijakan moneter AS menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar serta nilai tukar mata uang global, termasuk rupiah.
Rupiah Menguat di Pasar Spot, Kurs JISDOR Justru Melemah
Di tengah penguatan rupiah pada perdagangan pasar spot, perkembangan berbeda terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia.
Kurs JISDOR Bank Indonesia pada Selasa, 13 Oktober 2026, tercatat berada pada level Rp17.930 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan rupiah sebesar 31 poin dibandingkan dengan kurs JISDOR sebelumnya yang berada pada level Rp17.899 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah mencatat penguatan sebesar 13 poin di pasar spot, sementara kurs referensi JISDOR menunjukkan pelemahan sebesar 31 poin.
Perbedaan arah pergerakan tersebut dapat terjadi karena kurs penutupan pasar spot dan kurs referensi JISDOR menggunakan mekanisme serta waktu penghitungan yang berbeda.
Penguatan rupiah pada perdagangan Selasa dikaitkan Ibrahim dengan perkembangan kebijakan energi Amerika Serikat terhadap Rusia yang berpotensi menambah pasokan bahan bakar global.
Sementara itu, pelaku pasar masih mencermati risiko geopolitik di Timur Tengah, perkembangan konflik Rusia-Ukraina, rilis data inflasi AS, serta agenda pidato Ketua The Fed sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar berikutnya.
- Penulis :
- Shila Glorya




