HOME  ⁄  Ekonomi

DKP Bantul Pastikan Pasokan Lele Aman Meski Kemarau Panjang, Produksi Capai 7.000 Ton per Tahun

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

DKP Bantul Pastikan Pasokan Lele Aman Meski Kemarau Panjang, Produksi Capai 7.000 Ton per Tahun
Foto: (Sumber :Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Istriyani saat ditemui di kompleks Kantor Bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/10/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso.)

Pantau - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memastikan pasokan ikan lele di pasaran tetap aman meskipun kemarau panjang berpotensi mengganggu produksi dan kesehatan ikan di sejumlah lokasi budi daya.

Kepala DKP Bantul Istriyani mengatakan kebutuhan lele di pasar Yogyakarta masih dapat terpenuhi karena pasokan dari luar daerah akan masuk ketika produksi pembudi daya lokal mengalami penurunan.

"Ketika produk (lele) kita berkurang, pasti dari luar sudah masuk. Sangat, sangat dinamis," katanya di Bantul, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, pergerakan pasokan antardaerah menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga ketersediaan lele selama musim kemarau.

Produksi Lele Bantul Capai 7.000 Ton per Tahun

Istriyani menjelaskan bahwa Kabupaten Bantul memiliki produksi lele sekitar 7.000 ton setiap tahun dengan dukungan lebih dari 300 kelompok pembudi daya.

"Produksi kita per tahun itu kan di angka lebih kurang 7.000 ton per tahun dengan 300-an kelompok budi daya," ujarnya.

Jumlah produksi tersebut menunjukkan besarnya aktivitas budi daya lele yang dijalankan masyarakat di Kabupaten Bantul.

Meski demikian, Istriyani mengingatkan bahwa produktivitas kolam sangat dipengaruhi oleh pengelolaan air dan kepadatan penebaran benih.

Menurutnya, jumlah benih yang ditebar harus disesuaikan dengan luas kolam serta kondisi sirkulasi air agar pertumbuhan ikan tetap optimal.

Pada kolam seluas tiga meter persegi dengan kondisi air tidak mengalir, jumlah benih yang umumnya dapat ditebar mencapai sekitar 1.000 ekor.

"Kalau mengalirnya mungkin sedang, bisa di angka 3.000 ekor. Kalau mengalirnya deras, bisa di angka 5.000 ekor," katanya.

Kemarau Panjang Tingkatkan Risiko Penyakit Ikan

DKP Bantul mengingatkan pembudi daya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan suhu air selama kemarau panjang.

Istriyani menjelaskan bahwa fluktuasi suhu ekstrem dapat menyebabkan ikan mengalami stres sehingga lebih rentan terserang penyakit.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi pembudi daya agar tidak berdampak terhadap hasil panen.

DKP Bantul juga telah menerima sejumlah laporan mengenai kendala kesehatan ikan selama musim kemarau.

"Ada beberapa laporan, tapi kemudian kita sudah melakukan pengawasan karena kita punya tenaga dokter hewan, petugas pemantau kesehatan ikan, sudah terjun, langsung terjun," katanya.

Petugas kesehatan ikan telah diterjunkan untuk melakukan pengawasan dan membantu pembudi daya menangani permasalahan yang ditemukan di lapangan.

DKP Dorong Pembudi Daya Perkuat Pengelolaan Air

Istriyani menyebutkan bahwa sebagian pembudi daya lele di Bantul telah menerapkan teknologi budi daya yang mendukung pengelolaan sirkulasi air.

Penerapan sistem air mengalir dinilai membantu menjaga kondisi kolam dan mengurangi risiko gangguan terhadap kesehatan ikan selama kemarau.

"Dengan teknologi air mengalir, itu artinya tidak terjadi masalah," ujarnya.

Selain memperhatikan sirkulasi air, DKP Bantul mengimbau pembudi daya melakukan pemeriksaan kondisi ikan secara lebih rutin.

Pemantauan tersebut mencakup perkembangan benih, kondisi kesehatan ikan, serta perubahan lingkungan kolam yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan.

Istriyani mengingatkan bahwa kondisi ikan dapat berubah dalam waktu singkat, terutama ketika terjadi perubahan suhu yang cukup ekstrem.

"Kadang-kadang pagi sehat, nanti siang mungkin (kendala). Jadi memang kontrol di tiap kolam itu harus lebih rutin, lebih intens," ujarnya.

DKP Bantul memastikan pengawasan kesehatan ikan terus dilakukan untuk membantu pembudi daya menghadapi dampak kemarau panjang sekaligus menjaga ketersediaan lele di pasaran.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026